Internasional

AS-Israel: Luncurkan Serangan Presisi ke Teheran, Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei

Wajah politik Iran dan Timur Tengah berubah drastis setelah serangan presisi gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi militer ini berhasil mengakhiri kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei, arsitek utama perlawanan terhadap hegemoni Barat di kawasan tersebut. Peristiwa ini memicu ketidakpastian signifikan dalam dinamika kekuatan global dan stabilitas regional.

Operasi Dekapitasi: Strategi Baru di Teheran

Operasi yang diberi sandi Epic Fury oleh Pentagon dan Roaring Lion oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) ini merupakan serangan udara berskala masif. Berbeda dengan invasi darat konvensional, strategi ini mengadopsi model “dekapitasi pimpinan” yang bertujuan melumpuhkan sistem saraf pusat kekuasaan negara melalui satu serangan tunggal. Model ini sebelumnya diuji coba dalam operasi terhadap rezim Venezuela pada awal tahun 2026.

Serangan dimulai tepat setelah matahari terbit, menargetkan para elite pengambil kebijakan Iran yang sedang berkumpul di pusat kota. Operasi ini melibatkan koordinasi canggih antara jet siluman F-35, pembom strategis B-2 Spirit, dan drone serang sekali pakai generasi terbaru yang dijuluki LUCAS. Gelombang pertama serangan difokuskan untuk mematikan pertahanan udara Iran, termasuk sistem rudal S-400 yang baru saja digelar.

Setelah superioritas udara tercapai, fokus beralih ke fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Fordow, serta pangkalan rudal balistik di Karaj dan Isfahan. Target utama dari seluruh serangan adalah kompleks kediaman dan kantor Pemimpin Tertinggi di distrik Pasteur, Teheran. Setidaknya 30 bom presisi tinggi menghantam target tersebut dalam hitungan menit, mengubah bangunan simbol kekuasaan Khamenei menjadi reruntuhan, sebagaimana ditunjukkan oleh citra satelit yang dirilis Airbus DS.

Verifikasi Kematian dan Reaksi Awal

Proses verifikasi kematian Khamenei memicu ketegangan di ruang siber dan media internasional. Selama hampir 24 jam pertama, Teheran berupaya mengaburkan informasi, dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi dalam kondisi aman. Namun, narasi ini goyah ketika Presiden Donald Trump melalui media sosialnya menyatakan bahwa “salah satu orang paling jahat dalam sejarah telah tiada,” diperkuat oleh bocoran intelijen Israel yang menunjukkan visual jenazah Ayatollah dievakuasi.

Pada Minggu pagi, stasiun televisi pemerintah IRIB menyiarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dengan latar belakang hitam, kode universal untuk duka cita nasional. Pengumuman resmi kemudian muncul bahwa Ali Khamenei telah mencapai “kesyahidan.” Kabinet Iran segera mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan hari libur publik selama seminggu. Dunia kini menghadapi vakum kepemimpinan di Iran di tengah konflik yang masih berkecamuk.

Profil Ali Khamenei: Arsitek Revolusi dan Pragmatisme

Ali Khamenei, lahir di Mashhad pada Juli 1939, adalah figur paradoks antara keteguhan teologis dan kelincahan politik. Ia menempuh pendidikan teologi di Qom di bawah bimbingan Ayatollah Khomeini. Sebagai aktivis anti-Shah, ia berkali-kali dipenjara dan mengalami penyiksaan, serta kehilangan fungsi tangan kanannya akibat bom pada tahun 1981, sebuah luka yang ia banggakan sebagai simbol pengorbanan revolusioner.

Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran (1981–1989) selama Perang Iran-Irak, membangun hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Setelah wafatnya Khomeini pada 1989, ia terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi. Hubungannya dengan Amerika Serikat ditandai oleh ideologi anti-Barat yang radikal, namun sesekali diwarnai pragmatisme taktis, seperti persetujuan untuk kesepakatan nuklir JCPOA pada 2015 di bawah Presiden AS Barack Obama. Doktrinnya, “No War, No Negotiation,” menjadi kompas politik Iran selama bertahun-tahun. Ironisnya, menjelang serangan maut, Khamenei telah mengizinkan timnya kembali ke meja perundingan di Jenewa.

Implikasi Suksesi dan Dinamika Domestik

Secara konstitusional, dewan darurat yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian dan pimpinan lembaga tinggi lainnya akan menjalankan pemerintahan transisi. Namun, kekuatan sejati di Iran berada di tangan IRGC. Kematian Khamenei di bawah serangan asing berpotensi memberikan legitimasi bagi Garda Revolusi untuk mengambil alih kendali negara secara total. Tanpa otoritas spiritual Khamenei sebagai penyeimbang, IRGC kemungkinan akan mendorong Iran menuju model “Garrison State” yang lebih agresif, mempercepat program nuklir dan rudal sebagai jaminan kelangsungan hidup rezim.

Di tingkat domestik, polarisasi terlihat jelas. Media pemerintah menyiarkan gambar kerumunan massa yang berduka, namun laporan lapangan juga menunjukkan suara perayaan dari sebagian warga yang merasa terbebas dari tirani puluhan tahun. Amerika Serikat dan Israel kini berada di puncak kemenangan taktis, namun juga di tepi jurang risiko strategis. Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan kelanjutan serangan hingga kemampuan nuklir Iran musnah, namun sejarah menunjukkan bahwa kekosongan kekuasaan di negara kuat sering berujung pada kekacauan berdarah.

Dampak Geopolitik Global: Rusia dan China dalam Dilema

Imbas geopolitik dari kematian Khamenei turut mengguncang Rusia dan China. Bagi Kremlin, Iran bukan hanya sekutu ideologis anti-Barat, tetapi juga pemasok vital bagi kampanye militer di Ukraina, terutama drone Shahed dan rudal balistik. Moskow mengecam keras serangan ini sebagai “Pandora’s Box” yang akan memicu ketidakstabilan global, khawatir bahwa kekacauan di Teheran akan memutus koridor logistik strategis Rusia di Timur Tengah.

Sementara itu, bagi China, Iran adalah mitra energi krusial dan simpul penting dalam inisiatif Belt and Road (BRI). Beijing memandang serangan ini sebagai langkah sembrono Washington yang dapat melumpuhkan pasokan energi global. China adalah pelanggan minyak terbesar Iran, dan stabilitas Teheran sangat penting untuk mengatasi “Dilema Malaka” yang menghantui keamanan energi Beijing. Baik China maupun Rusia kemungkinan akan berkoordinasi untuk memastikan pengganti Khamenei tetap berada dalam orbit mereka, sekaligus mencegah Iran jatuh ke tangan pemerintahan pro-Barat.

Analisis mengenai pergerakan militer dan implikasi geopolitik ini didasarkan pada citra satelit, pernyataan resmi dari berbagai kementerian pertahanan, serta laporan intelijen publik yang dirilis hingga Senin, 02 Maret 2026.