TEL AVIV – Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menargetkan sejumlah lokasi vital di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, menyusul kegagalan negosiasi diplomatik di Jenewa. Operasi militer ini didahului oleh pengerahan kapal induk tercanggih AS, USS Gerald R Ford, ke pesisir Israel, menandai eskalasi signifikan dalam dinamika keamanan regional.
Detail Operasi Militer di Iran
Serangan udara skala besar dilancarkan pada Sabtu pagi waktu setempat, dua hari setelah putaran ketiga negosiasi di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan. Rudal-rudal yang dilaporkan berasal dari Israel menghantam titik-titik strategis di Teheran, termasuk kawasan Jalan Universitas dan Jomhouri. Koresponden Al Jazeera melaporkan visual rudal meluncur di atas ibu kota sebelum dentuman keras terdengar di berbagai lokasi.
Selain Teheran, kantor berita AFP mengonfirmasi ledakan besar juga mengguncang Isfahan, Tabriz, Karaj, Kermanshah, Qom, Ilam, dan Provinsi Lorestan. Secara total, setidaknya tujuh kota di Iran menjadi sasaran serangan udara gabungan tersebut, menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur yang ditargetkan.
Pengerahan Kekuatan Militer Amerika Serikat
Kedatangan kapal induk USS Gerald R Ford di pesisir Israel pada Jumat, 27 Februari 2026, sehari sebelum serangan, mengindikasikan penguatan kekuatan militer Washington di kawasan. Meskipun militer AS belum mengeluarkan pernyataan resmi, laporan Channel 12 Israel menyebutkan kehadiran kapal induk tersebut sebagai bagian dari persiapan operasional.
Aktivitas militer AS di Israel juga dilaporkan meningkat tajam. Sebanyak 20 pesawat pengisian bahan bakar mendarat pada Kamis, 26 Februari 2026, termasuk empat pesawat KC-46A Pegasus yang terpantau tiba di Bandara Ben Gurion, dekat Tel Aviv. Pengerahan aset-aset strategis ini menegaskan kapabilitas proyeksi kekuatan AS di Timur Tengah.
Respon Pertahanan Udara Regional
Menyusul serangan ke Iran, sejumlah negara di kawasan Teluk melaporkan keterlibatan mereka dalam menghalau rentetan serangan rudal balistik yang diduga berasal dari Iran. Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi telah mencegat serangan rudal pada Sabtu, 28 Februari 2026, dengan Kementerian Pertahanan UEA menyatakan wilayahnya menjadi target serangan terang-terangan yang berhasil dinetralisir oleh sistem pertahanan udara mereka.
Kepala Staf Angkatan Udara Kuwait juga mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan negaranya telah mendeteksi dan melumpuhkan rudal yang memasuki wilayah udara Kuwait. Serupa, Angkatan Bersenjata Yordania melaporkan berhasil menembak jatuh dua rudal balistik yang melintasi wilayah kerajaan. Di Qatar, serangkaian ledakan keras terdengar di seluruh penjuru Doha, dengan Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi adanya serangan rudal yang menargetkan negara tersebut, termasuk di sekitar pangkalan militer Al-Udeid, fasilitas militer Amerika Serikat terbesar di Timur Tengah.
Analisis mengenai operasi militer dan pergerakan aset strategis ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan negara-negara Teluk, dan laporan intelijen publik yang dirilis hingga Minggu, 01 Maret 2026.