Internasional

AS-Israel Luncurkan Serangan Udara Presisi di Teheran, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas

Peta geopolitik Timur Tengah mengalami pergeseran signifikan setelah media pemerintah Iran pada Minggu, 1 Maret 2026, mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei dilaporkan tewas di kantornya di Teheran akibat serangan udara presisi gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, memicu ketidakpastian strategis di kawasan.

Serangan Presisi dan Kematian Pemimpin Tertinggi Iran

Insiden yang menargetkan jantung ibu kota Iran ini terjadi pada Minggu pagi. Laporan intelijen mengindikasikan bahwa sekitar 40 pejabat tinggi Iran turut menjadi korban dalam rangkaian serangan udara tersebut. Citra satelit yang dianalisis oleh BBC Verify menunjukkan kerusakan masif di kompleks kediaman dan kantor Khamenei di Teheran, menguatkan klaim mengenai skala dan akurasi serangan.

Kantor berita Tasnim, yang terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengonfirmasi kematian Khamenei “saat sedang menjalankan tugasnya” di kantor. Penegasan lokasi kematian ini bertujuan membantah spekulasi yang menyebut sang pemimpin tengah bersembunyi dari ancaman musuh.

Reaksi Reza Pahlavi dan Seruan Transisi

Menanggapi peristiwa tersebut, putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, mengeluarkan pernyataan tajam melalui akun media sosialnya. Pahlavi menyebut insiden ini sebagai titik akhir dari era Negara Islam Iran, menegaskan bahwa struktur pemerintahan Republik Islam telah runtuh secara fungsional seiring hilangnya pemimpin tertinggi.

“Ali Khamenei, tawa waktu yang haus darah, pembunuh puluhan ribu anak-anak paling berani di Iran, telah dihapus dari halaman waktu. Dengan kematiannya, Republik Islam juga telah berakhir dalam praktik dan akan segera bergabung dengan tempat sampah sejarah,” tulis Pahlavi pada Minggu pagi.

Pahlavi juga mengeluarkan ultimatum kepada jajaran militer dan IRGC agar tidak berupaya mempertahankan struktur pemerintahan yang menurutnya sudah tidak sah. Ia menyerukan aparat keamanan untuk berpihak pada bangsa, menandai momen ini sebagai peluang terakhir bagi transisi politik.

Eskalasi Regional Pasca-Kematian Khamenei

Kematian Ayatollah Khamenei segera memicu gelombang retaliasi dari militer Iran. IRGC mengumumkan dimulainya operasi ofensif terhadap wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Dubai, Doha, dan Bahrain. Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam dinamika keamanan regional.

Di dalam negeri Iran, jumlah korban jiwa sipil terus meningkat. Bulan Sabit Merah melaporkan lebih dari 200 orang tewas akibat serangan udara tersebut, dengan insiden paling mematikan terjadi di sebuah sekolah perempuan yang menyebabkan sedikitnya 108 korban jiwa. Situasi di Teheran dan kota-kota besar lainnya kini berada dalam ketidakpastian tinggi.

Reza Pahlavi menutup pesannya dengan seruan mobilisasi massa masyarakat Iran. “Waktu untuk kehadiran yang masif dan menentukan di jalanan sudah sangat dekat. Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mencapai kemenangan tertinggi,” tulis Reza Pahlavi di akun Instagram pribadinya, mengindikasikan potensi gejolak internal yang lebih luas.

Analisis mengenai serangan udara dan dampaknya didasarkan pada laporan intelijen publik, citra satelit yang diverifikasi oleh lembaga independen, serta pernyataan resmi dari media pemerintah Iran dan tokoh politik terkait yang dirilis pada 1 Maret 2026.