Internasional

AS-Israel Luncurkan Serangan Udara Terkoordinasi ke Iran, Targetkan Pusat Nuklir dan Militer

Pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, Iran menjadi sasaran serangan udara presisi yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Operasi militer ini, yang telah lama diantisipasi oleh komunitas intelijen dan analis geopolitik, menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan regional, menyusul kegagalan jalur diplomasi untuk menghentikan program pengayaan uranium Teheran.

Latar Belakang dan Penumpukan Kekuatan

Pengerahan aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah telah mencapai puncaknya dalam beberapa bulan terakhir, sebuah penumpukan yang belum pernah terlihat sejak invasi Irak pada tahun 2003. Washington secara terang-terangan membangun kekuatan maritim dan udara di sekitar Iran. Dua kapal induk bertenaga nuklir, USS Abraham Lincoln (CVN-72) dari kelas Nimitz dan USS Gerald R. Ford (CVN-78) dari kelas Ford, ditempatkan secara strategis di Laut Arab dan lepas pantai Israel, membentuk kepungan maritim yang jelas.

USS Gerald R. Ford, dengan sistem peluncuran elektromagnetik (EMALS) canggihnya, mampu meluncurkan jet tempur dengan frekuensi tinggi, mencapai 160 hingga 270 sortie per hari dalam kondisi darurat, sebuah kapabilitas yang menantang sistem pertahanan udara konvensional. Kesiagaan tinggi juga terlihat di Israel, dengan pangkalan udara Ovda di selatan menjadi lokasi penempatan selusin jet tempur siluman F-22 Raptor yang diterbangkan dari Pangkalan Langley, AS, melalui Pangkalan Udara Lakenheath di Inggris.

Pergerakan ini diperkuat oleh instruksi darurat dari Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, pada Jumat malam, yang meminta staf diplomatik non-esensial untuk meninggalkan Israel karena risiko perang yang meningkat. Bagi Presiden Donald Trump, yang kembali ke Gedung Putih dengan mandat ‘Maximum Pressure’ versi kedua, serangan ini, yang diberi sandi “Operation Epic Fury,” adalah manifestasi dari kegagalan diplomasi. Tuntutan “Zero Enrichment” atau penghentian total pengayaan uranium oleh Iran menjadi harga mati yang tidak dapat ditawar.

Detail Operasi dan Target Strategis

Serangan dimulai saat fajar menyingsing, sebuah pilihan waktu yang menurut pengamat militer cukup berisiko namun taktis, karena mengeksploitasi titik lengah pertahanan udara Iran yang umumnya mengantisipasi serangan malam hari. Gelombang pertama serangan difokuskan pada pusat pemerintahan di Teheran. Distrik Pasteur, lokasi kantor dan kediaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta istana kepresidenan, dihantam oleh setidaknya tujuh rudal presisi tinggi. Meskipun laporan intelijen menyebutkan Khamenei telah dievakuasi, hantaman langsung ke jantung kekuasaan memberikan dampak psikologis signifikan bagi struktur komando Iran.

Target berikutnya adalah fasilitas nuklir dan industri rudal Iran. Pengebom B-2 Spirit, yang terbang langsung dari Pangkalan Whiteman di Missouri, AS, melepaskan bom pemecah bunker raksasa GBU-57 ke fasilitas pengayaan uranium di Fordow dan Natanz, yang terkubur ratusan meter di bawah tanah. Di Isfahan, Pusat Teknologi Nuklir dilaporkan mengalami kerusakan parah, sementara pangkalan rudal di Tabriz dan pusat pengembangan militer di Kermanshah serta Karaj turut diratakan.

Israel, yang menamai operasinya “The Roar of the Lion,” secara simbolis mencoba menghubungkan operasi ini dengan lambang “Singa dan Matahari” (Shir-o-Khorshid) yang pernah menjadi kebanggaan Iran sebelum Revolusi 1979, mengirim pesan kepada rakyat Iran bahwa serangan ini bukan terhadap bangsa mereka, melainkan untuk mengembalikan “kejayaan singa.”

Respons Iran dan Eskalasi Regional

Klaim awal Pentagon dan IDF menyebutkan kehancuran signifikan atas kemampuan produksi rudal balistik Iran dan penundaan program nuklir hingga hitungan tahunan. Namun, Iran segera meluncurkan serangan balasan besar-besaran, yang mereka sebut sebagai respons proporsional. Rudal-rudal balistik Iran dilaporkan menghantam beberapa instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Pangkalan udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab menjadi target utama, di mana sistem pertahanan udara THAAD milik AS harus bekerja keras. Markas Armada Kelima AS di Juffair, Bahrain, juga dilaporkan menjadi sasaran.

Di dalam wilayah Israel, sirene serangan udara terus meraung di Yerusalem, Tel Aviv, hingga Haifa seiring masuknya gelombang rudal dan drone yang diluncurkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pemerintah Israel telah mendeklarasikan status darurat nasional selama 48 jam, menutup seluruh aktivitas publik, dan memindahkan layanan rumah sakit ke fasilitas bawah tanah.

Analisis Dampak dan Proyeksi Konflik

Risiko eskalasi meningkat tajam. Potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak global, menjadi kekhawatiran utama. Meskipun penutupan ini akan merugikan ekonomi Iran dan hubungannya dengan Tiongkok, Teheran mungkin merasa tidak punya pilihan jika kelangsungan rezim terancam. Iran juga kemungkinan akan menggunakan strategi asimetris, seperti penyebaran ranjau laut atau penggunaan drone bunuh diri, untuk mengganggu pelayaran internasional tanpa konfrontasi terbuka.

Konflik ini hampir pasti akan memicu aktivasi seluruh jaringan proksi Iran di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Jika Israel terpaksa membuka front utara secara penuh melawan Hizbullah, intensitas perang akan meningkat berkali-kali lipat, berpotensi memaksa Amerika Serikat untuk terlibat lebih jauh dalam operasi darat atau blokade total. Dukungan terbuka dari Reza Pahlavi, putra mahkota Iran di pengasingan, terhadap serangan ini sebagai “intervensi kemanusiaan” juga menambah dimensi politik internal Iran, mengindikasikan bahwa operasi militer ini mungkin dirancang untuk memicu keruntuhan internal rezim melalui kombinasi serangan fisik dan dukungan terhadap gerakan protes domestik.

Fajar berdarah di Teheran pada 28 Februari 2026 menandai berakhirnya era diplomasi dan dimulainya normal baru antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel. “Operation Epic Fury” dan “The Roar of the Lion” telah merobek selubung ketenangan di Timur Tengah, dengan dampak strategis yang belum sepenuhnya terukur.

Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada citra satelit, laporan intelijen publik, dan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang dirilis pada 28 Februari 2026.