Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dilaporkan telah mengirimkan sekitar 6.000 terminal internet satelit Starlink secara rahasia ke Iran. Langkah ini diambil menyusul tindakan keras Teheran terhadap gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengguncang negara itu sejak akhir Desember 2025. Pengiriman teknologi ini, yang pertama kali dilakukan AS secara langsung ke Iran, bertujuan untuk membantu warga menghindari sensor pemerintah di tengah pemutusan akses internet nasional. Dinamika ini terjadi bersamaan dengan negosiasi sensitif mengenai program nuklir Iran, menambah kompleksitas pada ketegangan regional.
Latar Belakang dan Tujuan Operasi Starlink
Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), Amerika Serikat telah mengirimkan sekitar 6.000 perangkat internet satelit Starlink ke Iran. Sumber pejabat pemerintah yang dikutip WSJ mengungkapkan bahwa Kementerian Luar Negeri AS telah mengakuisisi hampir 7.000 terminal Starlink dalam beberapa bulan terakhir. Inisiatif ini dirancang untuk mendukung aktivis anti-rezim dalam mengatasi kebijakan pemutusan internet nasional yang diberlakukan oleh Teheran.
Pemerintah Iran sebelumnya memblokir akses internet di seluruh negeri selama lebih dari dua pekan sebagai upaya meredam protes warga yang dipicu oleh kemerosotan ekonomi dan anjloknya nilai tukar mata uang. Kelompok hak asasi manusia HRANA yang berbasis di AS memperkirakan bahwa sejak demonstrasi dimulai pada akhir Desember 2025, sebanyak 7.002 demonstran telah tewas, sementara 11.730 lainnya masih dalam proses penyelidikan. Keputusan untuk mengirimkan perangkat Starlink ini dilaporkan muncul setelah pejabat senior pemerintahan Trump mengalihkan dana dari inisiatif kebebasan internet lainnya di Iran. Meskipun Presiden Trump disebut mengetahui pengiriman tersebut, persetujuan langsungnya belum dapat dipastikan.
Di Iran, kepemilikan terminal Starlink merupakan tindakan ilegal yang dapat berujung pada hukuman penjara bertahun-tahun. Namun, Elon Musk, pemilik SpaceX, dilaporkan telah membebaskan biaya langganan bulanan bagi pengguna di Iran sebagai bentuk dukungan pasca-tindakan keras pemerintah.
Dinamika Nuklir dan Ketegangan Regional
Langkah pengiriman terminal Starlink ini terjadi di tengah pembicaraan tingkat tinggi antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir Iran. Presiden Trump sebelumnya telah mengancam akan melancarkan serangan militer jika kesepakatan tidak tercapai, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir dan siap untuk menjalani verifikasi yang diperlukan. Namun, ia menyoroti sulitnya diplomasi dengan Barat, menyatakan, “Tembok ketidakpercayaan yang tinggi yang diciptakan AS dan Eropa melalui pernyataan dan tindakan masa lalu mereka tidak memungkinkan pembicaraan ini mencapai kesimpulan,” dalam pidatonya memperingati HUT ke-47 Iran.
Di sisi lain, Teheran menuduh Israel berupaya menyabotase negosiasi setelah pertemuan antara Presiden Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kepala Keamanan Teheran, Ali Larijani, menegaskan bahwa dialog Iran secara eksklusif dilakukan dengan AS. “Negosiasi kami secara eksklusif dilakukan dengan AS, kami tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan Israel,” kata Larijani kepada Al Jazeera. “Namun, Israel telah menyisipkan diri ke dalam proses ini dengan niat untuk merusak dan menyabotase negosiasi tersebut.”
Hingga saat ini, pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan pengiriman terminal Starlink. Teheran sendiri terus menuduh Washington berperan dalam menyebarkan perpecahan di dalam negerinya, memperkeruh iklim geopolitik di kawasan tersebut.
Analisis mengenai pengiriman teknologi komunikasi ini didasarkan pada laporan investigasi Wall Street Journal dan pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri AS serta pejabat tinggi Iran yang dirilis pada Jumat, 13 Februari 2026.