Washington mengklaim telah menenggelamkan sembilan kapal perang Iran dan menghancurkan markas Angkatan Lautnya dalam operasi militer gabungan dengan Israel, memicu balasan rudal dan drone dari Teheran. Eskalasi ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi nuklir, meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk pada Selasa, 03 Maret 2026.
Klaim Washington dan Respons Teheran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui platform Truth Social, menyatakan bahwa pasukan AS telah menghancurkan dan menenggelamkan sembilan kapal Angkatan Laut Iran, beberapa di antaranya disebut “relatif besar dan penting.” Trump juga mengklaim markas besar Angkatan Laut Iran “sebagian besar telah dihancurkan” dan bersumpah akan memburu sisa armada Iran hingga “mengapung di dasar laut.” Dalam wawancara sebelumnya dengan Fox News pada Minggu (1/3/2026), Trump menyebut 48 pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukan AS menyerang sebuah korvet kelas Jamaran milik Iran di Teluk Oman pada awal kampanye militer yang dinamakan Operation Epic Fury, Sabtu (28/2/2026) pagi. “Kapal itu saat ini sedang tenggelam ke dasar Teluk Oman di dermaga Chah Bahar,” demikian pernyataan CENTCOM di platform X. CENTCOM juga melaporkan bahwa sejak operasi dimulai, militer AS telah menyerang lebih dari 1.000 target Iran, termasuk markas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pada Sabtu malam, pengebom siluman B-2 AS yang dipersenjatai bom seberat 2.000 pon dilaporkan menghantam fasilitas rudal balistik Iran yang diperkeras. CENTCOM membantah klaim Iran yang menyebut telah menyerang kapal induk USS Abraham Lincoln dengan rudal balistik, menegaskan bahwa rudal yang diluncurkan “bahkan tidak mendekat.” Dalam operasi tersebut, tiga tentara AS dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka serius.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Drone Iran juga dilaporkan menargetkan sejumlah negara Teluk. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa institusi negara tetap utuh dan bahwa pemimpin tertinggi baru dapat segera dipilih. Hingga kini, pemerintah Iran belum mengonfirmasi klaim AS terkait penenggelaman kapal-kapal perangnya maupun kerusakan markas besar angkatan lautnya.
Dinamika Operasi Gabungan dan Implikasi Strategis
Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) pagi menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan regional. Operasi ini, yang memasuki hari kedua, terjadi setelah negosiasi nuklir antara Iran dan kekuatan global menemui jalan buntu. Penargetan aset-aset angkatan laut dan fasilitas rudal balistik Iran menunjukkan upaya untuk melemahkan kapabilitas militer strategis Teheran.
Klaim mengenai korban jiwa di kalangan pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi, jika terverifikasi, akan memiliki implikasi geopolitik yang mendalam bagi stabilitas internal Iran dan dinamika kekuasaan di Timur Tengah. Namun, respons Iran yang cepat dengan serangan balasan menegaskan kesiapan Teheran untuk mempertahankan diri dan memproyeksikan kekuatan di tengah agresi.
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada citra satelit, pernyataan resmi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), dan laporan media yang diverifikasi, serta respons dari Kementerian Luar Negeri Iran.