Internasional

AS: Operasi Militer di Iran Memasuki Fase Krusial Pasca-Gugurnya Pemimpin Tertinggi Khamenei

Konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memasuki hari keempat pada Selasa, 3 Maret 2026, menyusul dimulainya operasi militer pada Sabtu, 28 Februari 2026. Eskalasi ini terjadi setelah gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menempatkan Teheran di persimpangan strategis antara potensi restrukturisasi politik atau destabilisasi regional.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa Washington akan memegang kendali penuh atas jalannya perang. “Kami akan menyelesaikan ini dengan syarat ‘America First’ pilihan Presiden Trump, bukan orang lain, sebagaimana mestinya,” tegas Hegseth di Pentagon, Senin.

Analisis Skenario Pasca-Konflik Iran

Para analis dan sejarah mencatat adanya tiga kemungkinan besar yang dapat muncul dari perang ini, sebagaimana dilansir dari CNN:

  1. Skenario Optimistis: Kelahiran Iran Baru

    Skenario yang paling diharapkan oleh Gedung Putih adalah jatuhnya rezim saat ini melalui pemberontakan rakyat. Serangan udara intensif selama beberapa hari terakhir diharapkan mampu memicu perlawanan massa di dalam negeri Iran. Jika berhasil, transisi ini dapat mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara total dan mengakhiri permusuhan AS-Iran yang telah berlangsung selama 50 tahun. Presiden Trump sendiri mengisyaratkan hal ini dalam pesannya kepada rakyat Iran, yang diperkuat oleh Hegseth: “Saya pikir pesan yang diberikan presiden sudah jelas. Kepada rakyat Iran: ini adalah momen Anda.”

  2. Skenario Moderat: Iran Lumpuh Total

    Skenario kedua, dan dianggap paling mungkin terjadi, adalah bertahannya sisa-sisa rezim Iran, namun dalam kondisi militer yang lumpuh total. Operasi AS bertujuan untuk menghancurkan kapasitas nuklir, rudal balistik, dan angkatan laut Iran sehingga tidak lagi menjadi ancaman regional. Elliott Abrams, mantan pejabat tinggi kebijakan luar negeri era Presiden AS George W. Bush, menilai ini adalah hasil yang signifikan bagi keamanan kawasan. “Negara ini akan menjadi negara yang sebagian besar kehilangan kemampuan untuk menggunakan kekuatan fisik,” kata Abrams. Ia memprediksi Iran tidak akan lagi memiliki program nuklir, peluncur rudal, maupun angkatan laut setelah operasi ini berakhir. Hal ini juga akan berdampak luas secara global dengan melemahkan aliansi anti-Barat yang melibatkan Rusia dan Tiongkok.

  3. Skenario Terburuk: Kekacauan seperti Libya

    Risiko terbesar adalah jika Iran runtuh tanpa adanya pengganti yang stabil, menciptakan kekosongan kekuasaan seperti yang terjadi di Libya. Kekacauan ini bisa memicu perang saudara, krisis pengungsi massal, hingga jatuhnya stok uranium ke tangan kelompok ekstremis. Sejarawan Max Boot memperingatkan adanya bahaya dari sikap jemawa pemerintah. “Perang yang diluncurkan Trump ini tidak beralasan dan ilegal. Itu tidak berarti perang ini tidak akan berhasil,” ujarnya, namun tetap mengkritik kurangnya landasan hukum dan strategi jangka panjang yang jelas.

Respons dan Strategi Washington

Meskipun AS menjanjikan kemenangan cepat, kritik mengalir terkait ketidakjelasan alasan perang. Senator Demokrat Jeanne Shaheen menyatakan kekhawatirannya kepada CNN. “Tidak ada strategi yang benar-benar jelas. Kita perlu mendengar dari presiden apa yang ia inginkan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Presiden Trump tampak sengaja menjaga tujuan perang tetap samar agar dia memiliki ruang politik untuk mengklaim kemenangan kapan saja. Dia menekankan tidak ingin terjebak dalam perang darat yang berlarut-larut seperti di Irak atau Afganistan. “Para pembangun bangsa menghancurkan lebih banyak negara daripada yang mereka bangun,” kata Trump dalam sebuah kesempatan, menunjukkan keraguannya terhadap intervensi politik yang mendalam.

Implikasi Geopolitik dan Peringatan Internasional

Dinamika konflik ini memiliki implikasi signifikan terhadap keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dan stabilitas global. Potensi destabilisasi Iran dapat memicu gelombang ketidakpastian yang lebih luas, mempengaruhi jalur logistik energi dan memicu respons dari negara-negara tetangga yang memiliki kepentingan strategis di kawasan tersebut. Peringatan mengenai kekosongan kekuasaan dan penyebaran senjata non-konvensional menjadi perhatian utama komunitas internasional.

Analisis mengenai skenario pasca-konflik ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi Kementerian Pertahanan AS, dan pandangan para analis kebijakan luar negeri yang dirilis hingga Selasa, 3 Maret 2026.