Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mematangkan strategi militer dua tahap untuk menghadapi Iran. Rencana ini bertujuan memberikan tekanan hebat hingga peluang penggulingan kekuasaan di Teheran jika jalur diplomasi menemui jalan buntu. Informasi mengenai pertimbangan internal ini mencuat setelah adanya pertemuan tertutup di Ruang Situasi Gedung Putih pada Rabu, 18 Februari 2026, menjelang pertemuan diplomatik kedua negara di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026.
Fase Pertama: Melumpuhkan Kapabilitas Militer Iran
Dikutip dari The New York Times pada Minggu, 22 Februari 2026, tahap pertama yang dipertimbangkan adalah serangan awal dalam waktu dekat. Fokus dari operasi ini bukan langsung menyasar kepemimpinan tertinggi, melainkan melumpuhkan otot militer dan aset strategis Iran. Sejumlah target potensial yang masuk dalam radar militer AS antara lain markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), situs nuklir strategis, dan fasilitas program rudal balistik. Langkah ini dirancang untuk memberikan efek kejut dan tekanan maksimal agar Iran bersedia tunduk pada tuntutan diplomatik Washington.
Fase Kedua: Opsi Perubahan Rezim
Jika tahap pertama gagal membuahkan hasil, Presiden Trump mengisyaratkan akan membuka peluang operasi militer penuh pada akhir tahun 2026. Pada fase kedua inilah, target utama serangan adalah meruntuhkan rezim dan menggulingkan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei dari kursi kekuasaan. Meski demikian, rencana tahap kedua ini memicu perdebatan di internal pemerintahan. Sejumlah pejabat meragukan apakah tujuan menggulingkan kepemimpinan Iran bisa dicapai hanya melalui serangan udara tanpa keterlibatan pasukan darat dalam skala besar.
Sikap Hati-hati Militer AS dan Perdebatan Internal
Dalam rapat di Ruang Situasi yang dihadiri Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, hingga Direktur CIA John Ratcliffe, Presiden Trump mendesak para petinggi militer memaparkan strategi luas terhadap Iran. Namun, Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dilaporkan bersikap sangat hati-hati. Berbeda dengan optimisme saat operasi penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela bulan lalu, Jenderal Caine tidak memberikan jaminan keberhasilan yang sama untuk Iran. Jenderal Caine lebih fokus memaparkan kapabilitas operasional, sementara Direktur CIA John Ratcliffe membedah situasi lapangan. Di sisi lain, JD Vance melontarkan serangkaian pertanyaan tajam mengenai risiko serangan tersebut.