Traktat New START (Strategic Arms Reduction Treaty), instrumen terakhir pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, resmi berakhir pada Kamis (5/2/2026). Berakhirnya kesepakatan ini menghapus batasan hukum terhadap jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dikerahkan oleh dua kekuatan nuklir terbesar dunia tersebut, memicu kekhawatiran akan dimulainya era baru perlombaan senjata tanpa kendali.
Kegagalan Ekstensi dan Implikasi Strategis
Berakhirnya traktat ini terjadi setelah administrasi Presiden AS Donald Trump tidak menindaklanjuti proposal Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperpanjang batasan hulu ledak selama satu tahun. Tanpa adanya mekanisme verifikasi dan batasan jumlah, kedua negara kini memiliki keleluasaan teknis untuk memperluas arsenal nuklir mereka melampaui batas sebelumnya, yang berpotensi merusak doktrin deterrence global.
Peringatan dari Penyintas dan Komunitas Internasional
Nihon Hidankyo, organisasi penyintas bom atom Hiroshima dan Nagasaki yang dianugerahi Nobel Perdamaian 2024, menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini. Terumi Tanaka, wakil ketua organisasi tersebut, menegaskan bahwa dunia kini berada dalam fase kritis yang dapat mengarah pada konfrontasi nuklir langsung.
“Dengan situasi saat ini, saya memiliki firasat bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, kita benar-benar akan mengalami perang nuklir dan menuju kehancuran,” ujar Tanaka (93) dalam konferensi pers di Tokyo.
Dinamika Kekuatan di Asia Timur
Para analis pertahanan memperingatkan bahwa kekosongan hukum ini dapat mendorong China untuk mempercepat modernisasi dan perluasan persenjataan nuklirnya. Amerika Serikat sebelumnya bersikeras bahwa setiap perjanjian baru harus melibatkan Beijing, namun dialog trilateral tersebut hingga kini belum membuahkan hasil konkret. Situasi ini menambah ketegangan di kawasan Asia Timur yang sudah tereskalasi oleh isu kedaulatan teritorial.
- Hiroshima: 140.000 korban jiwa akibat serangan atom 1945.
- Nagasaki: 74.000 korban jiwa akibat serangan atom 1945.
- Status New START: Kedaluwarsa per 5 Februari 2026 tanpa pengganti.
Pemerintah Jepang, melalui Wakil Sekretaris Kabinet Kei Sato, menyatakan komitmennya untuk terus bekerja sama erat dengan Washington guna membangun kerangka pengendalian senjata nuklir baru yang melibatkan negara-negara terkait, termasuk Rusia dan China. Analisis mengenai berakhirnya kontrol senjata nuklir ini didasarkan pada pernyataan resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan laporan perkembangan diplomatik dari Kremlin yang dirilis pada Februari 2026.