Internasional

AS Siagakan Armada F-22 Raptor di Israel, Perkuat Tekanan Militer terhadap Program Nuklir Iran

Amerika Serikat telah mengerahkan dua belas unit jet tempur F-22 Raptor ke sebuah pangkalan udara di Israel selatan pada Selasa, 24 Februari 2026. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran, serta menjelang putaran negosiasi nuklir krusial yang dijadwalkan di Jenewa.

Konteks Pengerahan Militer dan Kapabilitas F-22

Pengerahan armada F-22 Raptor, yang dikenal sebagai salah satu jet tempur paling canggih di dunia, dilaporkan oleh lembaga penyiaran publik Israel, KAN. Pesawat-pesawat ini memiliki kapabilitas superior dalam menembus wilayah musuh serta melumpuhkan sistem pertahanan udara dan instalasi radar. Kehadiran F-22 di kawasan ini mengindikasikan peningkatan postur militer AS di Timur Tengah, sebuah langkah yang sering diinterpretasikan sebagai sinyal deterrence terhadap potensi ancaman regional.

Dinamika Negosiasi Nuklir Iran-AS

Pengerahan militer ini bertepatan dengan persiapan putaran ketiga negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat yang akan berlangsung di Jenewa pada Kamis, 26 Februari 2026. Washington dan Teheran sebelumnya telah menyelesaikan dua putaran pembicaraan yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklir Iran, menggantikan perjanjian yang dibatalkan oleh mantan Presiden Donald Trump.

Amerika Serikat secara konsisten menuntut penghentian pengayaan uranium oleh Iran, penghentian program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Namun, Teheran telah menolak dua tuntutan terakhir, menegaskan bahwa program rudal dan dukungan regional adalah bagian dari kedaulatan dan strategi pertahanan nasionalnya.

Opsi Militer dan Pertemuan Tingkat Tinggi Gedung Putih

Presiden AS Donald Trump dilaporkan siap mempertimbangkan opsi serangan militer skala besar terhadap Iran apabila jalur diplomatik gagal mencapai kesepakatan. Isu ini telah dibahas dalam pertemuan tertutup di Ruang Situasi Gedung Putih pada Rabu, 18 Februari 2026.

Pertemuan tingkat tinggi tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine. Dalam forum tersebut, Presiden Trump mendesak Jenderal Caine dan Direktur Ratcliffe untuk memaparkan pandangan mereka terkait strategi luas terhadap Iran.

Sumber internal mengindikasikan bahwa kedua pejabat tersebut bersikap hati-hati, tidak memberikan rekomendasi kebijakan spesifik. Jenderal Caine lebih fokus memaparkan kapabilitas militer dari sisi operasional, sementara Ratcliffe membedah situasi terkini di lapangan serta analisis dampak dari operasi yang diusulkan. Berbeda dengan optimisme yang menyertai operasi penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela bulan lalu, Jenderal Caine kali ini tidak memberikan jaminan keberhasilan yang sama, mengingat Iran dinilai sebagai target yang jauh lebih kompleks dan sulit ditembus. Wakil Presiden Vance, meskipun tidak menyatakan penolakan, melontarkan serangkaian pertanyaan tajam mengenai risiko dan kerumitan pelaksanaan serangan tersebut.

Analisis mengenai pengerahan militer ini didasarkan pada laporan lembaga penyiaran publik Israel KAN dan pernyataan resmi dari pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya, serta laporan intelijen publik terkait kapabilitas F-22 Raptor.