Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menegaskan kesiapan militer negaranya untuk menghadapi Iran, seraya mendesak Teheran agar menyepakati solusi diplomatik. Pernyataan ini disampaikan Hegseth pada Senin, 23 Februari 2026, di Colorado, menjelang pertemuan krusial antara delegasi AS dan Iran di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026.
Hegseth menekankan bahwa Washington membuka semua opsi dalam pendekatannya terhadap Iran, meskipun Presiden AS Donald Trump lebih mengutamakan jalur diplomatik. “Iran harus membuat kesepakatan. Iran memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan. Itulah hasil yang lebih diinginkan presiden,” ujar Hegseth, seraya menambahkan bahwa Pentagon bertugas menyediakan berbagai skenario, termasuk rencana darurat militer jika negosiasi gagal.
Sikap Washington Terhadap Teheran
Dalam kunjungannya, Hegseth menegaskan bahwa keputusan akhir terkait tindakan militer berada di tangan Presiden Trump. Ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan militer, Hegseth menjawab, “Itu keputusan presiden. Kami di sini untuk membantu memastikan kesepakatan tercapai. Dan saya pikir Iran akan bijak jika membuat kesepakatan yang baik.”
Pada hari yang sama, Presiden Trump membantah laporan media yang mengklaim Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Daniel Caine (juga disebut Razin) menentang tindakan militer terhadap Iran karena risiko konflik berkepanjangan. Melalui platform Truth Social, Trump menulis, “Banyak cerita dari media berita palsu yang beredar menyatakan bahwa Jenderal Daniel Caine, yang kadang disebut Razin, menentang kita untuk pergi berperang dengan Iran. Cerita tersebut tidak menyebutkan sumber yang memiliki pengetahuan yang begitu besar itu, dan itu 100 persen tidak benar.”
Trump menegaskan kembali otoritasnya dalam pengambilan keputusan militer. “Saya yang membuat keputusan, saya lebih memilih ada kesepakatan daripada tidak, tetapi jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan, sangat disayangkan, bagi rakyatnya,” tambahnya.
Dinamika Negosiasi Nuklir dan Stabilitas Regional
Pertemuan delegasi Iran dan AS di Jenewa pada 26 Februari 2026, akan melanjutkan pembahasan mengenai potensi kesepakatan nuklir. Negosiasi ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional dan spekulasi mengenai potensi eskalasi militer.
Ancaman militer AS, meskipun disebut sebagai opsi terakhir, berfungsi sebagai instrumen deterrence (daya tangkal) dalam upaya mendorong Iran kembali ke meja perundingan. Namun, para analis mencatat bahwa setiap langkah militer di kawasan Teluk berpotensi memicu konflik yang lebih luas, dengan dampak signifikan terhadap stabilitas geopolitik global dan jalur logistik energi.
Analisis mengenai pernyataan pejabat tinggi AS ini didasarkan pada laporan media dan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan AS yang dirilis pada 23 Februari 2026.