Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan komitmen Washington untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meskipun jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga AS menolak intervensi militer. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi ketegangan regional dan setelah serangan balasan Iran yang menewaskan empat personel militer AS di Kuwait.
Sentimen Publik AS terhadap Intervensi Iran
Jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters/Ipsos pada akhir Februari 2026 mengungkapkan bahwa hanya 27 persen warga AS yang menyetujui serangan militer terhadap Iran, sementara 43 persen menolak, dan 29 persen menyatakan tidak yakin. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh survei CNN/SSRS, di mana 59 persen responden tidak setuju dengan serangan AS ke Iran, berbanding 41 persen yang menyetujuinya.
Sebagai perbandingan, dukungan publik terhadap Operasi Midnight Hammer pada Juni 2025, yang bertujuan menghancurkan tiga situs nuklir Iran, mencapai 44 persen, dengan 56 persen menolaknya. Data ini mengindikasikan adanya resistensi yang konsisten dari publik AS terhadap opsi militer berskala besar di Timur Tengah.
Respons Presiden Trump dan Opsi Militer
Menanggapi hasil jajak pendapat tersebut, Presiden Trump menyatakan ketidakpeduliannya terhadap angka-angka tersebut, menegaskan bahwa keputusannya didasarkan pada apa yang dianggapnya sebagai tindakan yang benar dan telah lama tertunda. “Saya pikir hasil jajak pendapatnya sangat bagus, tetapi saya tidak peduli dengan jajak pendapat,” ujar Trump, seraya menambahkan, “Saya harus melakukan hal yang benar. Ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama.”
Trump juga menekankan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki kapabilitas senjata nuklir, mengklaim adanya “suara diam” atau “mayoritas yang diam” yang mendukung kebijakannya.
Potensi Pengerahan Pasukan Darat dan Implikasi Strategis
Dalam konteks ketegangan yang meningkat, Presiden Trump tidak mengesampingkan kemungkinan pengerahan pasukan darat AS ke Iran jika dianggap perlu. “Saya mengatakan ‘mungkin tidak membutuhkannya,’ (atau) ‘jika memang diperlukan’,” jelasnya.
Menteri Perang Pete Hegseth, dalam konferensi pers Pentagon pada Senin, 2 Maret 2026, mengonfirmasi bahwa saat ini tidak ada pasukan AS yang berada di dalam wilayah Iran. Namun, ia juga tidak menampik opsi pengerahan pasukan darat, menegaskan bahwa Washington akan melakukan segala yang diperlukan untuk memajukan kepentingan AS tanpa harus mengerahkan kekuatan besar secara permanen. “Presiden Trump memastikan musuh-musuh kita memahami bahwa kita akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memajukan kepentingan AS. Tapi kita tidak bodoh dalam hal ini,” kata Hegseth. “Anda tidak perlu mengerahkan 200.000 orang ke sana dan tinggal selama 20 tahun.”
Analisis mengenai kebijakan luar negeri dan potensi pengerahan militer ini didasarkan pada pernyataan resmi Presiden AS dan Kementerian Perang AS, serta hasil jajak pendapat publik yang dirilis pada akhir Februari 2026.