Internasional

Beijing: Kerahkan Armada Kapal Perang Besar di Laut Cina Selatan Pasca-Latihan Gabungan Regional

Pada Sabtu, 21 Februari 2026, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) Tiongkok dilaporkan telah mengerahkan gugus tugas kapal perang besar, termasuk kapal induk Liaoning, ke perairan Laut Cina Selatan. Manuver ini terjadi hanya beberapa hari setelah berakhirnya latihan militer gabungan antara Filipina dan Amerika Serikat di wilayah tersebut, memicu kekhawatiran baru mengenai eskalasi ketegangan maritim di kawasan strategis.

Latar Belakang Pengerahan Armada

Pengerahan armada Tiongkok ini diinterpretasikan sebagai respons langsung terhadap latihan ‘Balikatan’ yang melibatkan ribuan personel militer Filipina dan Amerika Serikat. Latihan tersebut, yang berfokus pada skenario pertahanan maritim dan operasi amfibi, secara eksplisit mencakup wilayah yang diklaim oleh Tiongkok sebagai bagian dari ‘sembilan garis putus-putus’ historisnya. Beijing secara konsisten menentang kehadiran militer asing di Laut Cina Selatan, yang dianggapnya sebagai intervensi terhadap kedaulatan teritorialnya.

Menurut laporan dari Kementerian Pertahanan Tiongkok, pengerahan ini adalah bagian dari ‘latihan rutin untuk menjaga kesiapan tempur dan kedaulatan nasional’. Namun, analis pertahanan regional melihatnya sebagai demonstrasi kekuatan yang bertujuan untuk menegaskan klaim maritim Tiongkok dan mengirimkan sinyal deterrence kepada pihak-pihak yang terlibat dalam aliansi pertahanan di kawasan.

Respon Internasional dan Analisis Strategis

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menyatakan keprihatinan atas ‘eskalasi yang tidak perlu’ dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri serta mematuhi hukum internasional, khususnya Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Filipina, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, menegaskan haknya untuk melakukan latihan pertahanan dengan mitra strategis di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) mereka.

Analis geopolitik dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura, Dr. Lee Wei Ling, menyatakan, ‘Manuver ini bukan hanya tentang klaim teritorial, tetapi juga tentang proyeksi kekuatan dan upaya Tiongkok untuk membentuk ulang arsitektur keamanan regional. Ini adalah permainan catur strategis yang kompleks dengan implikasi jangka panjang bagi jalur pelayaran global dan keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik.’

  • Jalur Pelayaran: Laut Cina Selatan merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sepertiga perdagangan maritim global.
  • Sumber Daya: Wilayah ini kaya akan sumber daya hidrokarbon dan perikanan, menambah kompleksitas sengketa.
  • Aliansi: Pengerahan ini dapat memperkuat aliansi pertahanan yang ada dan memicu pembentukan kemitraan baru di antara negara-negara pesisir.

Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada citra satelit yang dirilis oleh lembaga intelijen publik dan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Tiongkok serta Departemen Luar Negeri AS yang dipublikasikan pada 20-21 Februari 2026.