Rob Jetten, politisi dari partai liberal sosialis D66, secara resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Belanda pada Senin, 23 Februari 2026. Pada usia 38 tahun, Jetten menjadi kepala pemerintahan termuda dalam sejarah Belanda, memimpin kabinet minoritas yang dibentuk bersama Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) dan Aliansi Demokrat Kristen (CDA). Pelantikan ini menandai pergeseran signifikan dalam lanskap politik Belanda, dengan implikasi terhadap stabilitas legislatif dan agenda reformasi domestik.
Dinamika Pembentukan Kabinet Minoritas
Pembentukan kabinet minoritas oleh Jetten mengindikasikan tantangan legislatif yang substansial. Setiap inisiatif reformasi besar atau perjanjian koalisi akan memerlukan negosiasi suara demi suara di kedua majelis parlemen. Situasi ini menuntut ketahanan politik dan kemampuan konsensus yang tinggi dari perdana menteri baru, mengingat pengalaman sebelumnya sebagai Menteri Iklim di bawah Perdana Menteri Mark Rutte (2010-2024), yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal NATO.
Kenaikan Jetten ke posisi puncak terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, membawa D66 dari posisi kelima menjadi partai terdepan dalam pemilihan umum Oktober 2025. Kampanye Jetten yang berfokus pada pesan optimisme dengan slogan “Het kan wel” (Ya, kita bisa), beresonansi kuat dengan pemilih, berbeda dengan pendekatan banyak pesaingnya.
Profil Politik dan Tantangan Domestik
Jetten, yang secara terbuka menyatakan diri sebagai gay, menjadi perdana menteri pertama Belanda dengan orientasi seksual tersebut. Meskipun aspek kehidupan pribadinya tidak menjadi identitas politik utama, pengangkatannya memiliki resonansi global sebagai simbol kemajuan kesetaraan di negara-negara Barat.
Sebelum menjabat sebagai perdana menteri, Jetten memiliki rekam jejak di parlemen sejak 2017 dan pengalaman eksekutif sebagai Menteri Iklim. Namun, karier politiknya tidak selalu mulus, termasuk julukan “Jetten si Robot” dari kritikus yang menganggap penampilannya kurang dinamis. Ia juga memimpin kampanye D66 yang kurang berhasil pada tahun 2023, di mana partai hanya memenangkan sembilan kursi.
Tantangan paling mendesak yang dihadapi pemerintahan Jetten adalah krisis perumahan, dengan defisit sekitar 400.000 unit rumah. Jetten telah menyatakan ambisi untuk membangun sepuluh kota baru, sebuah janji yang akan menempatkannya di bawah tekanan besar untuk mewujudkan reformasi konkret.
Implikasi Stabilitas dan Perbandingan dengan Pendahulu
Perbandingan dengan mantan Perdana Menteri Mark Rutte sering muncul, terutama dalam hal pragmatisme dan etos kerja. Rutte, yang dikenal karena kemampuannya mempertahankan stabilitas melalui empat pemerintahan, menjadi tolok ukur bagi ketahanan politik yang dibutuhkan Jetten. Rekan partai Jetten, Roy Kramer, mencatat perbedaan karakter: “Rutte sangat banyak bicara, Jetten sedikit lebih pendiam,” ujarnya kepada surat kabar Belanda, Het Parool.
Pelantikan Jetten oleh Raja Willem-Alexander di Istana Huis ten Bosch di Den Haag pada 23 Februari lalu, menandai dimulainya era baru. Jetten menegaskan komitmennya untuk “bekerja untuk semua orang di Belanda,” dengan fokus pada solusi dan kolaborasi.
Analisis mengenai transisi kepemimpinan ini didasarkan pada laporan media internasional dan pernyataan resmi yang dirilis oleh kantor Perdana Menteri Belanda pada 23 Februari 2026.