Berakhirnya masa berlaku perjanjian New START pada Kamis (5/2/2026) menandai titik balik krusial dalam arsitektur keamanan global. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, Amerika Serikat dan Rusia tidak lagi terikat oleh kesepakatan hukum yang membatasi kekuatan nuklir strategis mereka. Situasi ini menciptakan kekosongan regulasi yang dikhawatirkan akan memicu perlombaan senjata nuklir baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Runtuhnya Arsitektur Pengendalian Senjata Strategis
Perjanjian New START, yang ditandatangani pada 2010 oleh Presiden Barack Obama dan Presiden Dmitry Medvedev, merupakan pilar terakhir pengendalian senjata nuklir antara Washington dan Moskwa. Kesepakatan ini menetapkan batasan ketat bagi kedua negara untuk menjaga stabilitas strategis melalui transparansi dan inspeksi timbal balik.
- Hulu Ledak Nuklir: Maksimal 1.550 unit yang dikerahkan.
- Peluncur Strategis: Maksimal 700 unit rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik kapal selam (SLBM), dan pengebom berat.
- Mekanisme Inspeksi: Verifikasi lapangan untuk memastikan kepatuhan terhadap data yang dilaporkan.
Mantan Presiden AS Barack Obama memperingatkan bahwa hilangnya pakta ini menghapus upaya diplomasi selama puluhan tahun. Menurutnya, tanpa adanya batasan yang jelas, dunia menjadi kurang aman dan rentan terhadap miskalkulasi strategis yang dapat berujung pada konflik terbuka.
Modernisasi Triad Nuklir dan Persaingan Teknologi
Saat ini, Rusia dan Amerika Serikat secara kolektif menguasai sekitar 90 persen persenjataan nuklir dunia. Tanpa adanya batasan New START, kedua negara diprediksi akan mempercepat modernisasi triad nuklir mereka (darat, laut, dan udara). Berikut adalah estimasi kekuatan nuklir global berdasarkan data terbaru:
| Negara | Estimasi Hulu Ledak | Status Modernisasi |
|---|---|---|
| Rusia | 5.459 | Rudal Oreshnik & Drone Poseidon |
| Amerika Serikat | 5.177 | Program Golden Dome & Uji Coba Bawah Tanah |
| Prancis | 290 | Penguatan Postur Deklarasi Northwood |
| Inggris | <250 | Modernisasi Hulu Ledak Strategis |
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya telah menangguhkan partisipasi Moskwa pada Februari 2023, dengan alasan keterlibatan NATO dalam konflik Ukraina. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah mengisyaratkan dimulainya kembali uji coba ledakan nuklir bawah tanah dan peluncuran program Golden Dome untuk menempatkan sistem pertahanan di ruang angkasa.
Dinamika Multipolar dan Tantangan dari China
Washington bersikeras bahwa setiap perjanjian pengendalian senjata di masa depan harus bersifat trilateral dengan melibatkan China. Namun, Beijing secara tegas menolak usulan tersebut dengan alasan bahwa kapasitas nuklir mereka belum setara dengan AS atau Rusia. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa kontrol senjata di abad ke-21 mustahil dilakukan tanpa melibatkan China yang simpanan nuklirnya berkembang pesat.
Di Eropa, Prancis dan Inggris mulai memperkuat postur nuklir mereka melalui Deklarasi Northwood. Langkah ini diambil sebagai respon terhadap meningkatnya ancaman keamanan di kawasan serta ketidakpastian komitmen payung nuklir AS di masa depan.
Analisis mengenai berakhirnya pakta nuklir ini didasarkan pada laporan Federasi Ilmuwan Amerika (FAS) serta pernyataan resmi dari Departemen Luar Negeri AS dan Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia yang dirilis pada awal Februari 2026.