Pemerintah China secara resmi mengumumkan pemberlakuan kebijakan bebas visa bagi warga negara Inggris dan Kanada mulai 17 Februari 2026. Langkah strategis ini secara efektif menempatkan Amerika Serikat sebagai satu-satunya anggota aliansi intelijen Five Eyes yang belum memperoleh fasilitas serupa, menandai pergeseran signifikan dalam dinamika hubungan Beijing dengan blok Barat di tengah ketegangan geopolitik yang persisten.
Rekonfigurasi Hubungan dengan Anggota Five Eyes
Kebijakan ini memperluas jangkauan diplomasi publik Beijing setelah sebelumnya memberikan fasilitas serupa kepada Selandia Baru dan Australia pada Juli 2024. Dengan durasi tinggal hingga 30 hari untuk keperluan bisnis, wisata, dan kunjungan keluarga, China berupaya memperkuat penetrasi pengaruh ekonomi dan sosial di negara-negara yang selama ini menjadi mitra keamanan utama Washington di kawasan Pasifik dan Transatlantik.
Normalisasi Hubungan London dan Ottawa
Keputusan ini menyusul rangkaian kunjungan tingkat tinggi oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney ke Beijing. Dalam pertemuan bilateral tersebut, Presiden Xi Jinping menekankan pentingnya kepercayaan timbal balik dan kolaborasi pragmatis. Starmer menyatakan bahwa hubungan Inggris-China berada dalam posisi kuat, sementara Carney berhasil menegosiasikan pemulihan akses pasar yang krusial bagi komoditas Kanada.
Dinamika Ekonomi dan Kompensasi Tarif
Diplomasi bebas visa ini juga disertai dengan kesepakatan ekonomi yang substansial sebagai bentuk quid pro quo. Kanada sepakat untuk mencabut tarif impor tambahan sebesar 100 persen terhadap kendaraan listrik (EV) asal China. Sebagai timbal balik, Beijing menurunkan bea masuk untuk produk canola Kanada secara signifikan, sebuah langkah yang dinilai sebagai upaya de-eskalasi perang dagang yang sempat memanas.
| Negara Five Eyes | Status Bebas Visa ke China | Tahun Aktivasi |
| Australia | Aktif | 2024 |
| Selandia Baru | Aktif | 2024 |
| Inggris | Aktif | 2026 |
| Kanada | Aktif | 2026 |
| Amerika Serikat | Dikecualikan | – |
Analisis Strategis: Isolasi Diplomatik Washington
Para analis pertahanan dan hubungan internasional menilai langkah Beijing ini sebagai taktik untuk mengeksploitasi keretakan dalam aliansi Barat, terutama di tengah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang cenderung proteksionis di bawah agenda America First. Dengan merangkul empat dari lima anggota Five Eyes melalui instrumen ekonomi dan mobilitas warga, China berupaya menciptakan perimbangan kekuatan baru yang meminimalisir efektivitas kebijakan isolasi yang diupayakan Washington.
Data Administrasi Imigrasi Nasional China menunjukkan bahwa kebijakan bebas visa telah meningkatkan arus masuk warga asing hingga 50 persen pada tahun 2025, mencapai 30,08 juta kedatangan. Hal ini memperkuat posisi tawar China dalam diplomasi multilateral dan memperlebar jarak koordinasi antara Amerika Serikat dengan sekutu terdekatnya dalam isu-isu sensitif seperti keamanan siber dan kedaulatan teritorial.
Analisis mengenai pergeseran kebijakan visa dan dinamika aliansi strategis ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China serta laporan hasil pertemuan bilateral yang dirilis pada Februari 2026.