Pameran kedirgantaraan Singapore Airshow menjadi panggung strategis bagi Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) untuk mempertegas ambisinya dalam mematahkan duopoli global Boeing dan Airbus. Melalui jet komersial C919, Beijing secara sistematis membidik pasar Asia Tenggara sebagai basis ekspansi internasional pertama di tengah krisis pengiriman pesawat yang melanda produsen Barat.
Strategi Penetrasi di Tengah Krisis Rantai Pasok
Kawasan Asia-Pasifik saat ini menghadapi tekanan operasional akibat keterlambatan pengiriman armada dari Boeing dan Airbus yang diperparah oleh kekurangan mesin serta hambatan logistik suku cadang. Direktur Jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), Willie Walsh, memproyeksikan bahwa COMAC akan menjadi pemain signifikan dalam satu dekade ke depan. Kelangkaan armada baru memberikan celah bagi COMAC untuk memposisikan diri sebagai pemasok alternatif bagi maskapai regional.
- C919: Pesawat lorong tunggal yang dirancang untuk menyaingi Airbus A320neo dan Boeing 737 MAX.
- C909 (ARJ21): Jet regional yang telah dioperasikan oleh maskapai di Laos, Vietnam, Brunei, Kamboja, dan Indonesia melalui Transnusa.
- Dukungan Negara: Status COMAC sebagai perusahaan milik negara memberikan keunggulan dalam stabilitas pendanaan dan penetapan harga yang kompetitif.
Hambatan Sertifikasi dan Infrastruktur Global
Meskipun menunjukkan kemajuan teknis, COMAC masih menghadapi tantangan besar dalam aspek sertifikasi internasional dan integrasi sistem. Saat ini, regulator penerbangan Eropa (EASA) masih melakukan uji laik terbang terhadap C919, yang diperkirakan baru akan rampung antara tahun 2028 hingga 2031. Tanpa sertifikasi global, penetrasi ke pasar di luar negara berkembang akan tetap terbatas.
| Parameter Persaingan | Status COMAC | Status Boeing/Airbus |
|---|---|---|
| Sertifikasi Internasional | Dalam proses (EASA/FAA) | Mapan |
| Infrastruktur MRO | Terbatas di Asia-Pasifik | Global |
| Rantai Pasok | Integrasi Komponen Barat-China | Ekosistem Terintegrasi |
Selain masalah regulasi, COMAC harus membangun jaringan pemeliharaan, perbaikan, dan pemeriksaan (MRO) serta pusat pelatihan pilot yang mampu menandingi ekosistem mapan milik pesaingnya. Analisis mengenai pergerakan industri dirgantara ini didasarkan pada laporan resmi IATA dan pernyataan korporasi yang dirilis selama Singapore Airshow pada Februari 2026.