Harga Bitcoin, mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, kembali mengalami pelemahan signifikan, terjun di bawah level 65.000 dollar AS pada Selasa, 24 Februari 2026. Penurunan drastis ini dipicu oleh ketidakpastian yang melingkupi kebijakan tarif global yang baru saja diumumkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menciptakan gelombang kekhawatiran di pasar aset berisiko.
Data dari CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin diperdagangkan di kisaran 64.200 dollar AS, atau setara dengan sekitar Rp 1,08 miliar per keping, mencerminkan koreksi sekitar 4,8 persen dalam 24 jam terakhir. Level ini menandai titik terendah Bitcoin dalam delapan bulan terakhir, memperpanjang tren penurunan yang telah membuat aset digital ini kehilangan hampir 50 persen nilainya sejak puncaknya di 126.000 dollar AS pada Oktober 2025.
Dinamika Pelemahan Pasar Kripto Global
Pelemahan tidak hanya menimpa Bitcoin. Ethereum, kripto terbesar kedua, juga terkoreksi sekitar 5 persen, diperdagangkan di kisaran 1.868 dollar AS (sekitar Rp 31,4 juta). Aset digital lain seperti XRP melemah 5,42 persen ke 1,34 dollar AS (sekitar Rp 22.500), sementara Binance Coin turun 5,7 persen ke 588,14 dollar AS (kira-kira Rp 9,8 juta). Secara lebih luas, altcoin seperti Solana, XRP, dan Avalanche mengalami koreksi yang lebih dalam, antara 6 hingga 9 persen, mengindikasikan sentimen penghindaran risiko yang kuat di kalangan investor.
Secara keseluruhan, nilai pasar industri kripto telah terpangkas sekitar 2 triliun dollar AS (sekitar Rp 33.655,9 triliun) sejak Oktober tahun lalu, mencerminkan dampak kumulatif dari berbagai faktor makroekonomi dan kebijakan.
Implikasi Kebijakan Tarif Donald Trump
Penurunan tajam ini terjadi pasca akhir pekan yang diwarnai ketidakpastian seputar kebijakan perdagangan AS. Donald Trump, yang kembali aktif dalam panggung politik, menetapkan tarif global sebesar 10 persen pada 20 Februari 2026. Kebijakan ini muncul tak lama setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global sebelumnya yang diberlakukan melalui undang-undang darurat IEEPA pada April lalu. Namun, hanya berselang sehari, Trump kembali menaikkan tarif menjadi 15 persen, yang akan berlaku selama 150 hari, dengan potensi perubahan lebih lanjut.
Ketidakpastian regulasi dan kebijakan seperti ini secara historis mendorong investor global ke mode defensif. Aset-aset berisiko tinggi seperti kripto menjadi yang pertama dilepas, dengan dana dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih aman dan stabil, seperti uang tunai, obligasi pemerintah, dan logam mulia seperti emas. Analis Delta Exchange, Riya Sehgal, mengonfirmasi bahwa pengumuman tarif 15 persen ini mengguncang aset berisiko global, memicu aliran modal ke safe haven, yang terlihat dari kenaikan emas lebih dari 2 persen.
Caroline Mauron, co-founder Orbit Markets, menambahkan bahwa pasar kripto saat ini masih rapuh. Selain kebijakan tarif, pasar juga dibayangi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sinyal dari Federal Reserve yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga, menambah tekanan jual terhadap aset berisiko.
Prospek Bitcoin: Antara Tekanan Bearish dan Zona Akumulasi
Tren pelemahan Bitcoin sebenarnya telah dimulai sejak awal tahun 2026, dengan harga merosot ke kisaran 80.000 dollar AS pada akhir Januari, dan kemudian tertekan hingga menyentuh 72.000 dollar AS pada 3 Februari. Angka tersebut menjadi posisi terendah sejak 6 November 2024, ketika BTC diperdagangkan di kisaran 68.898 dollar AS. Kala itu, tekanan utama datang dari penguatan signifikan dollar AS, molornya kepastian regulasi kripto di AS, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kini, ketidakpastian tarif Trump memperparah kondisi.
Ke depannya, tren pergerakan Bitcoin dinilai masih cenderung melemah atau berada dalam fase bearish, di mana sentimen investor negatif dan aksi jual mendominasi. Sejumlah analis menilai level 65.000 dollar AS sebagai titik penopang penting. Penembusan di bawah area ini dapat memperkuat tekanan jual, dengan skenario terburuk potensi penurunan ke level 50.000-an dollar AS (sekitar Rp 838,5 juta) dalam beberapa waktu ke depan.
Namun, tidak semua pandangan sepenuhnya negatif. Level 55.000 dollar AS hingga 60.000 dollar AS justru dianggap sebagian pelaku pasar sebagai zona akumulasi, yakni level harga yang menarik untuk membeli secara bertahap bagi investor jangka panjang. Analis pasar Eric Crown menilai pelemahan ini masih tergolong wajar jika dilihat dari siklus besar Bitcoin, yang melibatkan pola pergerakan harga berulang yang dipengaruhi oleh peristiwa halving, fase euforia, dan koreksi tajam, sebagaimana dihimpun dari DL News dan Live Mint.
KompasTekno mengimbau bahwa tulisan ini murni sebagai pemberitaan terkini terkait industri kripto, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto. Keputusan investasi sepenuhnya adalah tanggung jawab pembaca.