Internasional

DGSI Perancis Gagalkan Upaya Spionase, Sita Peralatan Canggih di Dekat Pangkalan Udara Bordeaux

Pihak berwenang Perancis, melalui Direktorat Jenderal Keamanan Internal (DGSI), telah menangkap dua warga negara China di desa Camblanes-et-Meynac, sekitar 15 kilometer dari Bordeaux, atas dugaan aktivitas spionase. Penangkapan yang terjadi pada Sabtu pekan lalu ini merupakan bagian dari investigasi yang lebih luas terhadap upaya pengumpulan informasi sensitif yang berpotensi merusak kepentingan pertahanan dan keamanan nasional Perancis.

Latar Belakang Penangkapan

Insiden ini bermula dari laporan warga di Camblanes-et-Meynac yang mencurigai dua pria tersebut menyewa sebuah rumah melalui platform Airbnb. Kecurigaan menguat setelah pemasangan perangkat penerima sinyal satelit berkapasitas tinggi di halaman rumah, yang bertepatan dengan anomali pada layanan internet di lingkungan sekitar. Menanggapi laporan tersebut, DGSI melancarkan operasi penangkapan dan menyita sejumlah besar peralatan komputasi canggih dari lokasi.

Kedua tersangka, berusia 27 dan 29 tahun, yang tiba di Perancis bulan lalu dengan visa kerja sebagai insinyur di sebuah perusahaan komunikasi nirkabel, kini ditahan di markas besar DGSI di pinggiran Paris. Mereka didakwa atas tuduhan “menyerahkan informasi kepada kekuatan asing yang berpotensi merusak kepentingan nasional Perancis.” Selain itu, dua warga keturunan China lainnya yang berdomisili di Perancis juga didakwa atas tuduhan membantu operasi spionase ini.

Target dan Modus Operandi

Kantor kejaksaan menduga para tersangka berupaya mengintersepsi data dari konstelasi satelit Starlink milik Elon Musk. Lebih lanjut, mereka juga diduga menargetkan pengumpulan data dari infrastruktur vital lainnya, khususnya sektor pertahanan, untuk dikirimkan kembali ke negara asal mereka, China. Modus operandi ini mengindikasikan upaya sistematis untuk mengeksploitasi celah keamanan dalam jaringan komunikasi dan data strategis.

Signifikansi Strategis Kawasan Barat Daya Perancis

Kawasan barat daya Perancis diidentifikasi sebagai target utama aktivitas intelijen ilegal karena konsentrasi situs-situs pertahanan, kedirgantaraan, dan telekomunikasi. Jeremy Andre, seorang analis intelijen Asia dari Intelligence Online, menjelaskan bahwa wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai sentra riset dan pengembangan pertahanan Perancis sejak Perang Dunia I. “Daftar target potensial di barat daya Perancis sangatlah banyak,” ujar Andre.

Di antara target-target strategis tersebut adalah pangkalan udara utama Bordeaux-Merignac serta kompleks industri pertahanan dan kedirgantaraan raksasa seperti Airbus, Thales, dan Dassault. Andre menambahkan bahwa China telah lama membangun jaringan hubungan melalui kanal diplomatik dan ekonomi yang sah di wilayah tersebut, yang berpotensi memfasilitasi aktivasi jaringan intelijen sesuai kebutuhan.

Pola Spionase dan Respons Perancis

Insiden penangkapan ini menambah panjang daftar dugaan operasi spionase China di wilayah tersebut. Sebelumnya, pada musim panas lalu, seorang insinyur China berusia 51 tahun ditahan di Boulogne-sur-Gesse karena berupaya mengintersepsi sinyal dari stasiun bumi Issus-Aussaguel. Pada Desember 2025, seorang peneliti matematika di Universitas Bordeaux juga diselidiki karena diduga memfasilitasi akses delegasi China ke zona terbatas di lembaga riset tersebut.

Para ahli intelijen menilai, keputusan otoritas Perancis untuk mempublikasikan kasus-kasus ini mengindikasikan peningkatan transparansi dan ketegasan dalam menghadapi ancaman spionase asing. Langkah ini mencerminkan upaya untuk meningkatkan kesadaran publik dan deterensi terhadap aktivitas intelijen ilegal yang menargetkan aset-aset strategis nasional.

Analisis mengenai operasi spionase ini didasarkan pada laporan resmi Direktorat Jenderal Keamanan Internal (DGSI) Perancis dan keterangan kantor kejaksaan yang dirilis pada Jumat, 6 Februari 2026, serta analisis dari Intelligence Online.