Pemerintahan otonom Greenland dan Denmark secara tegas menolak tawaran Amerika Serikat untuk mengirimkan kapal rumah sakit ke wilayah Arktik tersebut. Inisiatif yang diumumkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump pada Minggu, 22 Februari 2026, ini memicu respons diplomatik yang menyoroti isu kedaulatan dan kapabilitas sistem kesehatan lokal di tengah meningkatnya perhatian geopolitik di kawasan Arktik.
Latar Belakang Tawaran Amerika Serikat
Donald Trump, melalui unggahan di platform media sosialnya, menyatakan niatnya untuk mengirimkan sebuah kapal rumah sakit besar ke Greenland. “Kita akan mengirimkan kapal rumah sakit besar ke Greenland untuk merawat banyak orang yang sakit dan tidak mendapatkan perawatan di sana,” tulis Trump, tanpa merinci jumlah pasien atau identitas spesifik yang dimaksud. Unggahan tersebut disertai dengan gambar yang tampak dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI), menggambarkan USNS Mercy, sebuah kapal sepanjang 272 meter, berlayar menuju pegunungan bersalju.
Trump menambahkan bahwa pengiriman kapal tersebut akan dikoordinasikan dengan Gubernur Jeff Landry, yang ditunjuk sebagai utusan khusus Trump untuk Greenland pada Desember sebelumnya. Inisiatif ini muncul di tengah spekulasi berkelanjutan mengenai kepentingan strategis AS di Arktik, termasuk potensi akuisisi wilayah tersebut yang pernah diutarakan Trump pada masa kepresidenannya.
Penolakan Tegas dari Greenland dan Denmark
Menanggapi tawaran tersebut, Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, dengan lugas menolak inisiatif AS. “Tidak, terima kasih,” ujarnya melalui unggahan di Facebook. Nielsen menegaskan, “Gagasan Presiden Trump untuk mengirim kapal rumah sakit AS ke Greenland telah kami catat. Tetapi kami memiliki sistem kesehatan publik di mana perawatan gratis untuk warga negara.” Pernyataan ini secara implisit menekankan kemandirian dan kapabilitas Greenland dalam mengelola layanan kesehatan bagi penduduknya.
Senada dengan Greenland, Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, juga menepis kebutuhan akan bantuan medis eksternal. Poulsen menyatakan bahwa penduduk Greenland telah menerima layanan kesehatan yang memadai, baik di Greenland sendiri maupun di Denmark untuk perawatan khusus. “Bukan berarti ada kebutuhan akan inisiatif perawatan kesehatan khusus di Greenland,” tegasnya, menggarisbawahi bahwa sistem kesehatan yang ada sudah mencukupi.
Implikasi Strategis di Kawasan Arktik
Penolakan ini terjadi hanya sehari setelah pasukan Denmark mengevakuasi seorang anggota kru kapal selam AS di lepas pantai Nuuk, ibu kota Greenland, pada tanggal 22 Februari 2026. Komando Arktik Gabungan Denmark melaporkan bahwa anggota kru tersebut diterbangkan ke rumah sakit di Nuuk setelah mengalami keadaan darurat medis yang tidak disebutkan secara spesifik di atas kapal. Insiden ini, meskipun terpisah, menyoroti kehadiran militer AS di perairan Arktik dan kapabilitas respons darurat Denmark di wilayah tersebut.
Dinamika ini menggarisbawahi sensitivitas kedaulatan dan otonomi di Greenland, serta peran Denmark sebagai negara induk. Tawaran AS, terlepas dari niatnya, dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk memperluas pengaruh di Arktik, sebuah kawasan yang semakin strategis akibat perubahan iklim dan potensi sumber daya alam. Penolakan ini menegaskan posisi Greenland dan Denmark dalam menjaga kontrol atas kebijakan internal dan hubungan eksternal mereka.
Analisis mengenai inisiatif diplomatik ini didasarkan pada pernyataan resmi dari Perdana Menteri Greenland, Kementerian Pertahanan Denmark, dan unggahan publik mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dirilis pada 22 Februari 2026.