Sektor agrikultur Malaysia kini berada dalam tekanan strategis menyusul fenomena surplus produksi yang dijuluki sebagai “tsunami durian”. Kondisi ini dipicu oleh perubahan mendasar pada preferensi konsumen di China serta kendala logistik yang menghambat distribusi komoditas segar ke pasar internasional, menciptakan tantangan baru bagi stabilitas ekonomi pedesaan.
Pergeseran Preferensi dan Kendala Rantai Pasok
Meskipun minat konsumen China terhadap komoditas durian tetap tinggi, terjadi pergeseran permintaan dari produk beku (frozen) ke buah segar utuh. Perubahan ini menciptakan hambatan signifikan bagi eksportir Malaysia yang selama ini mengandalkan infrastruktur pengolahan beku. Keterbatasan penerbangan langsung untuk kargo segar memperburuk penumpukan stok di pusat pengumpulan domestik.
Data menunjukkan bahwa pada Desember 2025, harga durian di tingkat petani jatuh ke level terendah dalam satu dekade, yakni 10 ringgit (sekitar Rp 43.000) per kilogram. Angka ini merepresentasikan penurunan drastis hingga sepersepuluh dari harga normal, yang berdampak langsung pada penurunan margin keuntungan hingga 60 persen bagi produsen lokal.
Ekspansi Lahan dan Kompetisi Regional
Krisis saat ini merupakan dampak jangka panjang dari investasi besar-besaran yang dilakukan pada periode 2016–2019. Berdasarkan data otoritas terkait, luas lahan perkebunan durian di Malaysia mengalami peningkatan signifikan sebagai berikut:
| Tahun | Luas Lahan (Hektare) | Total Produksi (Ton) |
|---|---|---|
| 2016 | 163.000 | – |
| 2024 | 227.000 | 568.000 |
| 2026 (Proyeksi) | – | 590.000 |
Selain kelebihan pasokan domestik, Malaysia harus menghadapi persaingan ketat dari negara produsen lain di Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam. Tekanan harga diperkirakan akan semakin intensif saat memasuki musim puncak panen regional pada April mendatang, di mana negara tetangga juga diprediksi mengalami lonjakan produksi serupa.
Ambisi Swasembada China dan Diversifikasi Pasar
Faktor geopolitik ekonomi yang paling krusial adalah langkah China dalam menginisiasi penanaman durian secara mandiri guna mencapai swasembada atau “kebebasan durian”. Langkah ini secara langsung mengurangi volume impor dari mitra tradisional di ASEAN. Laporan dari pelaku industri menyebutkan adanya penurunan volume ekspor hingga 40 persen dibandingkan musim sebelumnya akibat kebijakan substitusi impor ini.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah dan asosiasi produsen Malaysia mulai menjajaki pasar alternatif di luar China. Strategi diversifikasi ini mencakup upaya penetrasi pasar ke wilayah Taiwan dan Peru, meskipun skala permintaannya belum mampu menandingi volume pasar daratan China. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan tunggal pada satu mitra dagang utama.
Analisis mengenai dinamika pasar dan pergeseran rantai pasok ini disusun berdasarkan laporan berkala Kementerian Pertanian Malaysia serta data dari Asosiasi Produsen Durian Malaysia yang dirilis pada Februari 2026.