Lonjakan harga emas global yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan eskalasi perang dagang telah memicu pergeseran perilaku ekonomi di tingkat domestik Tiongkok. Fenomena ini tercermin dari meningkatnya minat masyarakat ritel di Provinsi Hebei untuk mengonversi likuiditas tunai menjadi aset emas sebagai instrumen mitigasi risiko terhadap inflasi dan fluktuasi mata uang.
Eskalasi Harga dan Sentimen Safe Haven
Hingga Februari 2026, harga emas di pasar domestik Tiongkok mencatatkan rekor baru dengan menyentuh angka 1.100 yuan (sekitar Rp 2,6 juta) per gram. Angka ini menunjukkan apresiasi nilai yang signifikan dibandingkan periode tahun 2023 yang berada di level 460 yuan per gram. Kenaikan tajam sebesar 60 persen dalam setahun terakhir ini dipengaruhi oleh kebijakan tarif proteksionis Amerika Serikat di bawah administrasi Donald Trump serta langkah strategis bank sentral global dalam memperkuat cadangan devisa berbasis emas.
| Indikator Ekonomi | Tahun 2023 | Februari 2026 |
|---|---|---|
| Harga Emas (Yuan/Gram) | 460 | 1.100 |
| Nilai Tukar Estimasi (IDR) | 1,1 Juta | 2,6 Juta |
| Pertumbuhan Tahunan | – | 60% |
Resiliensi Pasar Domestik di Langfang
Di kota Langfang, tren akumulasi emas mulai merambah ke segmen demografi yang lebih muda. Laporan lapangan menunjukkan adanya kecenderungan warga untuk mengalihkan dana hibah musiman, seperti angpau Tahun Baru Imlek, ke dalam bentuk emas fisik. Salah satu kasus yang menarik perhatian analis adalah seorang warga berusia 10 tahun yang secara konsisten mengakumulasi 30 gram emas sejak 2023 guna menghindari depresiasi nilai aset tunai.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk kesadaran finansial dini terhadap volatilitas pasar. Meskipun pasar sempat mengalami koreksi tajam sebesar 9 persen pada akhir Januari lalu—penurunan harian terdalam sejak 1983—kepercayaan publik terhadap emas sebagai aset safe haven tetap solid. Hal ini didorong oleh kekhawatiran akan gangguan jalur logistik global dan stabilitas regional yang terus tertekan.
Analisis Dampak Strategis
Para analis ekonomi internasional memandang fenomena di Tiongkok ini bukan sekadar tren konsumsi, melainkan indikator dari strategi pertahanan ekonomi rumah tangga dalam menghadapi ketidakpastian global. Penguatan cadangan emas di tingkat akar rumput secara tidak langsung memperkuat ketahanan ekonomi domestik terhadap guncangan eksternal.
Analisis mengenai pergerakan komoditas strategis dan perilaku pasar ini didasarkan pada data perdagangan logam mulia internasional serta laporan ekonomi regional yang dirilis pada 14 Februari 2026.