Internasional

Diplomasi AS-China: Trump Desak Xi Jinping Putus Hubungan Ekonomi dengan Iran demi Stabilitas Global

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pembicaraan telepon strategis dengan Presiden China Xi Jinping pada Rabu (4/2/2026) guna membahas eskalasi di Timur Tengah dan dinamika keamanan di Selat Taiwan. Dalam percakapan tersebut, Trump mendesak Beijing untuk segera memutus hubungan ekonomi dan mengisolasi Teheran secara diplomatik. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran pasca-tindakan keras otoritas Iran terhadap protes nasional bulan lalu.

Tekanan Ekonomi dan Sanksi Tarif Global

Pemerintahan Trump mempertegas posisi tawar mereka dengan mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 25 persen bagi negara mana pun yang tetap menjalin hubungan dagang dengan Iran. China, sebagai mitra dagang terbesar Teheran, menjadi fokus utama dalam kebijakan tekanan maksimum ini. Berdasarkan data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), ketergantungan ekonomi Iran terhadap China sangat signifikan dengan rincian sebagai berikut:

Kategori PerdaganganNilai (USD)
Total Perdagangan Global Iran (2024)125 Miliar
Nilai Perdagangan Iran-China32 Miliar
Ancaman Tarif AS25%

Trump menegaskan bahwa AS tetap mempertimbangkan opsi militer jika Iran tidak memberikan konsesi signifikan pada program nuklirnya. Washington mengeklaim bahwa kapabilitas nuklir Teheran telah mengalami degradasi berat akibat serangan udara AS dalam operasi militer 12 hari pada Juni lalu.

Negosiasi di Oman dan Isu Kedaulatan Taiwan

Di tengah retorika militer yang menguat, kedua pihak sepakat untuk memfasilitasi negosiasi antara pejabat AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Oman pada Jumat (6/2/2026). Pengalihan lokasi dari Turkiye ke Oman dilakukan atas permintaan pihak Iran sebagai mediator netral di kawasan Teluk.

Selain isu Timur Tengah, dialog tersebut juga membahas ketegangan di Pasifik Barat. Beijing menyatakan keberatan keras terhadap paket bantuan militer AS untuk Taiwan senilai 10 miliar dollar AS yang diumumkan pada Desember lalu. Paket alutsista tersebut mencakup teknologi tempur mutakhir, antara lain:

  • Rudal balistik jarak menengah
  • Sistem artileri Howitzer modern
  • Pesawat nirawak (drone) pengintai dan serbu

Pemerintah China menegaskan bahwa Taiwan merupakan bagian integral dari kedaulatan teritorialnya dan mendesak AS untuk menghentikan penjualan senjata guna menjaga stabilitas regional. Analisis mengenai dinamika geopolitik ini didasarkan pada pernyataan resmi Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri China yang dirilis pasca-pertemuan bilateral tersebut.