Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan kekhawatirannya atas arah perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat, menjelang pertemuan trilateral di Jenewa pada 17-18 Februari 2026. Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich, Zelensky menggarisbawahi adanya tekanan asimetris yang menuntut konsesi besar dari pihak Kyiv tanpa adanya jaminan keamanan yang konkret dari sekutu Barat maupun Rusia.
Dinamika Perundingan Jenewa dan Tekanan Washington
Zelensky mengungkapkan bahwa Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump cenderung memfokuskan narasi perdamaian pada pengorbanan teritorial atau politik dari pihak Ukraina. Ia menilai pendekatan ini tidak seimbang karena jarang menyentuh kewajiban serupa dari pihak Moskwa. “AS sering kembali membahas topik konsesi, dan terlalu sering konsesi itu hanya dibahas dalam konteks Ukraina, bukan Rusia,” tegas Zelensky.
Keterlibatan Eropa dalam meja perundingan juga menjadi poin krusial yang diangkat. Zelensky menganggap absennya kekuatan kontinental Eropa sebagai kelemahan strategis yang dapat mengurangi legitimasi kesepakatan jangka panjang. Menurutnya, stabilitas kawasan hanya dapat dicapai jika terdapat arsitektur keamanan yang melibatkan aktor-aktor regional secara langsung.
Sengketa Teritorial dan Jaminan Keamanan Jangka Panjang
Salah satu hambatan utama dalam negosiasi ini adalah status wilayah Donetsk. Rusia menuntut penarikan penuh pasukan Ukraina dari wilayah tersebut, sebuah syarat yang ditolak keras oleh Kyiv. Sebagai kompensasi atas potensi gencatan senjata, Ukraina mengajukan tuntutan teknis dan strategis sebagai berikut:
- Jaminan Keamanan: Ukraina menuntut komitmen perlindungan selama minimal 20 tahun, melampaui proposal AS yang hanya menawarkan durasi 15 tahun.
- Misi Pemantauan: Kehadiran tim pemantau internasional untuk memastikan kepatuhan gencatan senjata dan pertukaran tawanan.
- Pertukaran Personel: Estimasi saat ini mencakup 7.000 tentara Ukraina yang ditahan Rusia dan 4.000 personel Rusia di tangan Kyiv.
Perubahan Delegasi Rusia dan Proyeksi Eskalasi
Kyiv juga menaruh kecurigaan terhadap perubahan mendadak dalam komposisi delegasi Rusia. Penunjukan Vladimir Medinsky, penasihat Presiden Putin, untuk menggantikan kepala intelijen militer Igor Kostyukov dianggap sebagai taktik penguluran waktu. Medinsky sebelumnya dikenal karena pendekatan negosiasi yang lebih bersifat retoris daripada teknis-militer.
Di sisi lain, Zelensky mendesak sekutu Barat untuk meningkatkan tekanan ekonomi melalui sanksi yang lebih berat dan penguatan pasokan alutsista guna memperkuat posisi tawar Ukraina. Langkah ini dianggap perlu untuk memaksa Kremlin menyepakati gencatan senjata yang nantinya akan menjadi dasar pelaksanaan referendum nasional di Ukraina.
Analisis mengenai dinamika diplomatik dan pergerakan militer ini disusun berdasarkan pernyataan resmi kepresidenan Ukraina dan laporan perkembangan perundingan di Jenewa yang dirilis pada Februari 2026.