Donald Trump secara tegas menolak proposal terbaru yang diajukan oleh pemerintah Iran terkait penyelesaian konflik yang sedang berlangsung. Dalam pernyataannya pada Senin (4/5/2026), Trump menilai usulan tersebut sama sekali tidak bisa diterima oleh pihaknya.
“Saya telah mempelajarinya, saya telah mempelajari semuanya, itu tidak dapat diterima,” ujar Trump sebagaimana dilansir dari Aljazeera.
Seruan Pengampunan untuk Netanyahu
Selain membahas hubungan dengan Iran, Trump juga memberikan pernyataan mengenai kasus korupsi yang menjerat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menyarankan agar Presiden Israel Isaac Herzog segera memberikan pengampunan kepada tokoh yang akrab disapa Bibi tersebut.
Trump beralasan bahwa sebagai pemimpin di masa perang, Netanyahu harus bebas dari urusan hukum agar bisa berkonsentrasi penuh pada keamanan negara. Ia mengklaim peran dirinya dan Netanyahu sangat krusial bagi eksistensi Israel di tengah situasi saat ini.
“Katakan kepada presiden Anda untuk mengampuni Bibi. Dia adalah perdana menteri di masa perang. Mereka tidak akan memiliki Israel jika bukan karena saya dan Bibi dalam urutan itu. Anda ingin memiliki PM yang dapat fokus pada perang, bukan fokus pada hal-hal yang tidak penting,” tutur Trump.
Konteks Konflik dan Tanggapan Iran
Situasi ketegangan ini berakar pada perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026. Meskipun operasi militer sempat ditangguhkan mulai 8 April, upaya diplomasi melalui perundingan damai di Pakistan sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan.
Tokoh senior di komando pusat militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, menyatakan bahwa potensi munculnya konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat sangat besar. Menurut laporan kantor berita Fars, Asadi menilai pihak Amerika Serikat sering kali melanggar janji atau kesepakatan internasional yang telah dibuat.
Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa posisi Iran saat ini sangat bergantung pada keputusan Amerika Serikat. Ia menyebut keputusan kini berada di tangan Washington untuk menentukan arah hubungan ke depan.
“Bola ada di tangan Amerika Serikat untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif,” kata Gharibabadi di hadapan para diplomat di Teheran. Ia juga menegaskan bahwa Iran telah siap menghadapi jalur diplomasi maupun kemungkinan konfrontasi.