Internasional

Ekonomi Energi: Kesepakatan India-AS Ubah Peta Pasokan Minyak, Dorong Aliansi Rusia-China

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Presiden China Xi Jinping menyusul penandatanganan kesepakatan dagang antara India dan Amerika Serikat (AS). Peristiwa ini menandai pergeseran signifikan dalam lanskap ekonomi energi global dan dinamika geopolitik di tengah tekanan sanksi Barat terhadap Moskow.

Pergeseran Pasar Minyak Rusia

India melunak terhadap AS setelah menerima ancaman tarif jika tidak mengurangi impor minyak dari Rusia. Kondisi ini mendorong Moskow untuk mengalihkan fokus pasarnya, terutama ke China, dengan menawarkan diskon yang semakin kompetitif.

Berdasarkan data Reuters, diskon untuk minyak mentah campuran ESPO melonjak hingga hampir 9 dollar AS per barel di bawah harga patokan ICE Brent. Sementara itu, minyak mentah jenis Urals yang sebelumnya dominan di pasar India, kini dialihkan sebagian ke China dengan diskon mencapai 12 dollar AS per barel, sebagaimana dilaporkan The Week pada Jumat (6/2/2026).

Rusia juga berupaya mempertahankan pangsa pasarnya di India, dengan memperlebar diskon minyak Urals hingga lebih dari 10 dollar AS di bawah harga Brent untuk kilang-kilang India dalam sepuluh hari terakhir.

Dominasi China dalam Impor Minyak Rusia

Data dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan perubahan signifikan dalam pola impor minyak Rusia. Pada Desember 2025, China telah menjadi importir terbesar dengan pangsa 47 persen, melampaui India yang berada di angka 38 persen.

Tren ini semakin menguat pada Januari 2026, di mana pembelian India merosot menjadi 1,1 juta barel per hari, jauh di bawah rata-rata tahun 2025 yang berkisar 1,4 juta hingga 2 juta barel. Sebaliknya, China meningkatkan volume impornya menjadi 1,65 juta barel per hari, menandai pembelian terbesar sejak Maret 2024.

Analis Vortexa, Emma Lee, menjelaskan bahwa pembeli di China memanfaatkan situasi ini untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan lain. “Pembeli China telah memanfaatkan diskon minyak Rusia, bahkan beberapa di antaranya mengurangi pembelian minyak mentah Iran demi mengimpor lebih banyak dari Rusia,” ujar Lee. Ia memprediksi tren ini akan terus berlanjut, “mengingat pemotongan pembelian yang terus dilakukan India, hal ini kemungkinan akan memicu diskon yang lebih dalam lagi.”

Implikasi Diplomatik dan Aliansi Strategis

Panggilan telepon antara Presiden Putin dan Presiden Xi Jinping terjadi selang satu hari setelah India meresmikan kesepakatan dagang dengan AS. Pada hari yang sama, Presiden Xi juga melakukan komunikasi telepon dengan Presiden AS Donald Trump, mengindikasikan intensitas diplomasi tingkat tinggi.

Shi Yinhong, profesor hubungan internasional di Universitas Renmin Beijing, menyebut dua percakapan tingkat tinggi tersebut sebagai “fenomena yang tidak biasa tetapi dapat dimengerti, dan sebagian besar merupakan hasil dari ekonomi energi,” seperti dikutip dari South China Morning Post.

Dalam pembicaraan tersebut, Presiden Putin secara terbuka menegaskan posisi Rusia sebagai mitra vital bagi Beijing. Ia menekankan bahwa Rusia adalah pemasok utama sumber daya energi bagi China, menyatakan, “Kemitraan energi kita saling menguntungkan dan benar-benar strategis.”

Analisis mengenai pergeseran pasar energi global ini didasarkan pada laporan data pasar dari Reuters dan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), serta pernyataan resmi dari Kremlin dan Kementerian Luar Negeri China.