Penurunan pengaruh militer Perancis di kawasan Afrika Barat dan Tengah, yang diperburuk oleh keterbatasan logistik pertahanan Rusia akibat konflik di Ukraina, telah membuka celah strategis bagi Republik Rakyat China (RRC). Beijing kini memposisikan diri sebagai mitra keamanan utama melalui penyediaan alutsista yang hemat biaya dan skema pembiayaan fleksibel, sebagaimana dilaporkan oleh China National Aero-Technology Import & Export Corporation (CATIC).
Langkah ekspansif ini menyusul gelombang instabilitas politik di wilayah Sahel sejak 2020, termasuk kudeta militer di Burkina Faso, Mali, dan Niger. Penarikan pasukan kontra-terorisme Perancis dari wilayah tersebut memberikan ruang bagi industri pertahanan China untuk menggantikan dominasi persenjataan Barat dan Rusia yang mulai menyusut di pasar regional.
Dominasi Pasar dan Data Strategis SIPRI
Berdasarkan data terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), China telah mengukuhkan posisinya sebagai pemasok senjata terbesar bagi negara-negara Afrika Barat pada periode 2020-2024. Tren ini menunjukkan pergeseran preferensi pengadaan alutsista di kawasan yang sedang bergejolak.
| Negara Pemasok | Pangsa Pasar di Afrika Barat (2020-2024) |
|---|---|
| China | 26% |
| Perancis | 14% |
| Rusia | 11% |
| Turki | 11% |
Katarina Djokic, peneliti dari Arms Transfers Programme SIPRI, mencatat bahwa ekspor China ke wilayah ini mencapai level tertinggi dalam sejarah. Peningkatan signifikan terlihat pada transfer senjata ke Senegal dan Ghana, meskipun kedua negara tersebut secara tradisional memiliki hubungan militer yang erat dengan Perancis.
Strategi Diplomasi Militer dan Alutsista Tanpa Syarat
Analis keamanan dari Royal United Services Institute (RUSI), Alessandro Arduino, menilai bahwa Beijing sedang merombak perannya menjadi aktor keamanan krusial di Sahel. Strategi China berfokus pada penawaran perangkat keras militer tanpa prasyarat politik yang ketat, yang seringkali menjadi hambatan dalam kesepakatan dengan negara-negara Barat.
Keunggulan Kompetitif Norinco dan CATIC
- Efisiensi Biaya: Harga yang kompetitif dan sistem pembiayaan yang permisif sangat menarik bagi pemerintahan dengan anggaran terbatas.
- Layanan Purna Jual: Sistem pemeliharaan dan kustomisasi alutsista disesuaikan dengan kebutuhan operasional di medan Afrika.
- Diversifikasi Produk: Peningkatan pangsa pasar pada sektor unmanned aerial vehicle (drone) dan kendaraan lapis baja.
Komitmen jangka panjang China ditegaskan dalam Rencana Aksi Beijing pada Forum Kerja Sama China-Afrika (FOCAC) 2024-2027. Program ini mencakup pelatihan bagi 6.500 personel militer Afrika. Norinco, produsen senjata terbesar China, bahkan telah memperluas jejak institusionalnya dengan membuka kantor perwakilan di Nigeria dan Senegal guna mempercepat penetrasi pasar.
Tantangan dan Limitasi Pengaruh Regional
Meskipun posisi China menguat, para ahli mengingatkan adanya persaingan ketat dari aktor lain seperti Turki dan Israel. Ilaria Carrozza dari Peace Research Institute Oslo menekankan bahwa jaringan keamanan Rusia yang sudah mengakar tetap menjadi kompetitor utama dalam aspek pengaruh politik di tingkat akar rumput militer.
Selain itu, terdapat keterbatasan strategis dalam doktrin keamanan China. Berbeda dengan Rusia atau Amerika Serikat, Beijing cenderung menghindari keterlibatan dalam dukungan militer kinetik atau pertempuran langsung. Keengganan untuk mengerahkan pasukan tempur di lapangan dinilai dapat membatasi kemampuan China dalam memenuhi permintaan keamanan tertentu yang bersifat mendesak di zona konflik aktif.
Analisis mengenai pergeseran kekuatan militer di kawasan Sahel ini didasarkan pada data transfer senjata dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) dan dokumen resmi Rencana Aksi Beijing FOCAC 2024-2027 yang dirilis pada Februari 2026.