Sebuah konsorsium pertahanan Jerman-Inggris, Hypersonica, berhasil melakukan uji coba perdana rudal hipersonik di Norwegia pada Senin, 9 Februari 2026. Keberhasilan ini, dengan rudal mencapai kecepatan Mach 6 atau lebih dari 7.400 kilometer per jam, menandai langkah signifikan Eropa dalam mengembangkan kapabilitas persenjataan canggih secara independen. Uji coba ini berlangsung di tengah percepatan belanja pertahanan negara-negara Eropa, menyusul pengerahan sistem rudal hipersonik Oreshnik oleh Rusia.
Detail Uji Coba Rudal Hipersonik Eropa
Dalam uji terbang yang dilaksanakan di Andoya Space, Norwegia utara, prototipe rudal Hypersonica mampu menempuh jarak lebih dari 300 kilometer. Perusahaan menyatakan bahwa seluruh sistem beroperasi normal, dengan kinerja yang tervalidasi hingga tingkat subkomponen pada kecepatan hipersonik. Pendiri bersama Hypersonica, Philipp Kerth dan Marc Ewenz, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan tonggak penting menuju pengembangan kemampuan serangan hipersonik berdaulat pertama di Eropa pada tahun 2029.
Hypersonica mengklaim arsitektur modular rudal mereka memungkinkan pengembangan yang lebih cepat dan efisien, dengan potensi menekan biaya produksi hingga 80 persen dibandingkan program pertahanan konvensional. Rudal ini ditargetkan siap digunakan pada tahun 2029, selaras dengan kerangka kerja hipersonik NATO dan Inggris untuk tahun 2030.
Respon Eropa terhadap Dinamika Persenjataan Global
Uji coba rudal hipersonik Eropa ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik yang berkembang, khususnya setelah Rusia mengerahkan sistem rudal hipersonik Oreshnik ke Belarus. Angkatan Udara Ukraina melaporkan rudal Oreshnik mampu melaju sekitar 13.000 kilometer per jam, dengan kapabilitas membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir, serta jangkauan hingga 5.500 kilometer.
Rudal hipersonik, yang didefinisikan sebagai proyektil yang terbang lebih dari lima kali kecepatan suara (Mach 5) namun tetap dapat bermanuver di atmosfer, menimbulkan tantangan signifikan bagi sistem pertahanan udara konvensional. Kecepatan ekstrem yang dihasilkan menciptakan panas tinggi, mempersulit deteksi dan intersepsi.
Peningkatan Anggaran Pertahanan Jerman dan Pergeseran Strategis Eropa
Sebagai bagian dari respons strategis yang lebih luas, Jerman telah mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar 108,2 miliar euro untuk tahun 2026. Angka ini terbagi antara 82,7 miliar euro dari anggaran reguler dan 25,5 miliar euro dari dana khusus yang dibentuk pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022. Anggaran tersebut merepresentasikan peningkatan signifikan dari sekitar 95 miliar euro pada tahun 2025, dan lebih dari dua kali lipat pengeluaran dibandingkan tahun 2021.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, telah berkomitmen untuk mencapai target 3,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk pertahanan pada tahun 2029, dengan tujuan menjadikan militer Jerman sebagai kekuatan konvensional terkuat di Eropa. Peningkatan anggaran terbesar dialokasikan untuk pengadaan militer, naik sebesar 16,8 miliar euro dan mencapai 27 persen dari total pengeluaran pertahanan. Prioritas diberikan pada pengadaan dari produsen Eropa, dengan hanya sekitar 8 persen kontrak yang diperkirakan akan diberikan kepada produsen Amerika Serikat.
Pergeseran ini mencerminkan tren yang lebih luas di Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada peralatan pertahanan AS. Menurut laporan lembaga penelitian perdamaian SIPRI, impor senjata dari AS ke Eropa meningkat lebih dari tiga kali lipat antara tahun 2020 dan 2024 dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya. Namun, untuk pertama kalinya dalam dua dekade, porsi terbesar ekspor senjata AS ditujukan ke Eropa, meningkat dari 13 persen pada 2015-2019 menjadi 35 persen pada 2020-2024. Negara-negara NATO di Eropa menggandakan impor senjata mereka selama periode ini, dengan dua pertiga masih berasal dari AS.
Dalam upaya kolektif, Program Kerja Dana Pertahanan Eropa (EDF) 2026 juga mencakup alokasi 168 juta euro untuk pengembangan penanggulangan hipersonik dan kapabilitas intersepsi endoatmosfer tingkat tinggi.
Analisis mengenai pengembangan dan uji coba rudal hipersonik ini didasarkan pada pernyataan resmi perusahaan Hypersonica yang dirilis pada 11 Februari 2026, serta laporan anggaran pertahanan dari Kementerian Pertahanan Jerman dan data impor senjata dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).