Kematian Seif Al Islam Gaddafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dalam sebuah serangan terencana di Zintan pada Selasa (3/2/2026), menandai babak baru ketidakpastian dalam transisi politik Libya. Insiden ini terjadi di tengah kebuntuan diplomatik antara faksi-faksi yang bertikai di negara tersebut dan diprediksi akan mengubah peta kekuatan politik regional secara signifikan.
Detail Operasi dan Eksekusi di Zintan
Menurut keterangan kuasa hukumnya, Marcel Ceccaldi, Seif Al Islam dieksekusi oleh empat orang personel bersenjata di kediamannya pada pukul 14.00 waktu setempat. Operasi tersebut dilaporkan dilakukan dengan presisi tinggi, di mana para pelaku melumpuhkan sistem pengawasan CCTV sebelum melakukan penyerbuan ke dalam rumah. Hingga saat ini, belum ada kelompok militan atau entitas politik yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Sebelum insiden terjadi, Seif dilaporkan telah menerima peringatan intelijen mengenai ancaman terhadap keselamatannya. Meski sempat ditawarkan perlindungan tambahan oleh otoritas suku setempat, ia memilih untuk tetap berada di kediamannya di Zintan, wilayah yang selama ini menjadi basis perlindungannya sejak dibebaskan dari tahanan melalui skema amnesti.
Rekam Jejak Politik dan Status Hukum Internasional
Seif Al Islam (53) merupakan figur sentral yang pernah diproyeksikan sebagai suksesor rezim Gaddafi. Meskipun dikenal sebagai tokoh reformis pada awal kariernya, posisinya berubah drastis selama revolusi 2011 yang didukung NATO. Ia menjadi subjek surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan selama upaya pemadaman pemberontakan tersebut.
Karier politiknya sempat kembali mencuat pada tahun 2021 saat ia mendaftarkan diri sebagai calon presiden. Namun, proses pemilihan tersebut terus tertunda akibat konflik legitimasi antara Pemerintah Persatuan Nasional (GNA) di Tripoli dan pemerintahan tandingan di wilayah timur yang didukung oleh Jenderal Khalifa Haftar.
Implikasi Strategis Terhadap Stabilitas Regional
Pakar politik Timur Tengah menilai bahwa kematian Seif Al Islam akan menghilangkan salah satu variabel paling kompleks dalam negosiasi perdamaian Libya. Di satu sisi, hal ini dapat mengurangi hambatan bagi kandidat presiden lainnya, namun di sisi lain, berisiko memicu radikalisasi di kalangan loyalis rezim lama yang melihat Seif sebagai simbol persatuan nasional.
| Parameter | Detail Informasi |
| Lokasi Kejadian | Zintan, Libya Barat |
| Waktu Eksekusi | 3 Februari 2026, 14.00 Local Time |
| Status Hukum | Subjek ICC (Kejahatan Kemanusiaan) |
| Dampak Politik | Vakum Kepemimpinan Faksi Loyalis |
Analisis mengenai pergerakan militer dan dampak keamanan pasca-insiden ini didasarkan pada laporan lapangan, pernyataan resmi perwakilan hukum, serta data intelijen terbuka yang dirilis oleh otoritas keamanan di Libya barat pada 4 Februari 2026.