Operasi udara militer Israel di Jalur Gaza pada Senin (16/2/2026) menewaskan sedikitnya 10 warga sipil, menandai eskalasi baru menjelang pertemuan perdana Dewan Perdamaian Gaza. Serangan yang terkonsentrasi di wilayah Jabalia dan Khan Younis ini terjadi di tengah ketegangan mengenai perluasan zona demarkasi sepihak yang dikenal sebagai Garis Kuning.
Ekspansi Teritorial dan Dinamika Garis Kuning
Laporan lapangan menunjukkan bahwa militer Israel terus memperluas Garis Kuning, sebuah zona penyangga militer yang kini mencakup sekitar 58 persen wilayah Gaza. Ekspansi ini dilakukan dengan penempatan blok beton kuning di distrik-distrik sipil, yang menurut Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med, merupakan bentuk perebutan wilayah ilegal yang melanggar hukum internasional.
Pihak militer Israel berdalih bahwa operasi tersebut merupakan respons terhadap aktivitas militan Hamas yang muncul dari infrastruktur terowongan di timur garis demarkasi. Israel menegaskan bahwa tindakan mereka tetap selaras dengan kerangka hukum internasional untuk memitigasi ancaman keamanan lintas batas.
Diplomasi Internasional dan Rencana Rekonstruksi
Eskalasi ini membayangi agenda Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Februari mendatang. Pertemuan strategis ini rencananya dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Israel, meskipun perwakilan Palestina dilaporkan tidak akan hadir dalam forum tersebut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, diprediksi akan memanfaatkan momentum tersebut untuk mengumumkan paket rekonstruksi Gaza senilai miliaran dolar. Rencana ini juga mencakup rincian mengenai pengerahan pasukan stabilisasi di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjaga stabilitas regional pascakonflik.
Data Korban dan Pelanggaran Gencatan Senjata
Berdasarkan data otoritas setempat yang dikutip Middle East Eye, terdapat lebih dari 1.600 pelanggaran gencatan senjata oleh pasukan Israel sejak kesepakatan Oktober 2025. Berikut adalah ringkasan data dampak konflik:
| Kategori Data | Jumlah Estimasi |
| Total Korban Jiwa (Sejak 2023) | 72.061 jiwa |
| Total Korban Luka | 171.715 orang |
| Korban Sejak Gencatan Senjata (Okt 2025) | 601 jiwa |
Analisis mengenai pergerakan militer dan perubahan batas wilayah ini didasarkan pada laporan kantor berita Wafa, citra satelit, serta pernyataan resmi otoritas pertahanan terkait yang dirilis hingga 16 Februari 2026.