Internasional

Eskalasi Teheran-Washington: Iran Bentengi Fasilitas Nuklir Hadapi Potensi Serangan AS

Iran dilaporkan tengah mempercepat penguatan infrastruktur nuklirnya melalui pembangunan bunker bawah tanah dan perisai beton masif di sejumlah titik strategis. Langkah defensif ini diambil Teheran menyusul meningkatnya spekulasi mengenai rencana serangan militer Amerika Serikat (AS) setelah negosiasi nuklir antara kedua negara mencapai titik buntu yang kritis.

Fortifikasi Fasilitas Nuklir dan Mitigasi Serangan Udara

Berdasarkan analisis citra satelit dari Institute for Science and International Security (ISIS), aktivitas konstruksi intensif terpantau di kompleks militer Parchin, sekitar 30 kilometer tenggara Teheran. Fasilitas baru di lokasi tersebut kini dikelilingi oleh struktur pelindung beton yang dirancang untuk memproteksi peralatan vital dari deteksi udara maupun hulu ledak konvensional.

Selain Parchin, kompleks nuklir Isfahan yang merupakan pusat pengayaan uranium utama juga menunjukkan perubahan signifikan. Visual satelit mengonfirmasi bahwa seluruh akses masuk terowongan kini telah ditutup sepenuhnya dengan timbunan tanah guna melindungi cadangan material nuklir dari potensi infiltrasi darat atau serangan rudal presisi.

Modernisasi Terowongan Natanz dan Pangkalan Rudal

Di kawasan pegunungan dekat Natanz, militer Iran memperkuat akses terowongan yang menghubungkan dua fasilitas pengayaan uranium krusial. Laporan intelijen terbuka mencatat adanya mobilisasi kendaraan berat, pengaduk semen, dan truk pengangkut dalam skala besar di seluruh area kompleks tersebut untuk memperdalam struktur bawah tanah.

Upaya pemulihan juga menyasar pangkalan rudal di Shiraz dan Qom yang sebelumnya mengalami kerusakan pada konflik tahun 2025. Perbaikan ini dipandang sebagai upaya strategis Iran untuk memulihkan kapabilitas serangan balik (retaliatory strike) dan memperkuat postur pertahanan regional jika eskalasi militer benar-benar pecah dalam waktu dekat.

Dinamika Diplomasi dan Garis Merah Washington

Meskipun persiapan militer terus berlangsung, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pihaknya tetap mengedepankan jalur non-kombatan namun menolak tunduk pada tekanan sepihak. “Kami tidak menginginkan perang, tetapi kami tidak akan membiarkan kedaulatan kami dipermalukan oleh tuntutan yang dipaksakan,” tegas Pezeshkian dalam pernyataan resminya pada Rabu (18/2).

Di pihak lain, Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi adanya kebuntuan pada poin-poin prinsipil dalam negosiasi terakhir. Washington dilaporkan telah menetapkan sejumlah “garis merah” terkait ambisi nuklir Teheran yang hingga kini belum disepakati oleh pihak Iran. Saat ini, aset strategis AS di kawasan dilaporkan berada dalam status siaga tempur tertinggi menunggu keputusan final dari Gedung Putih.

Analisis mengenai pergerakan militer dan penguatan infrastruktur nuklir ini didasarkan pada laporan teknis Institute for Science and International Security serta pernyataan resmi kementerian terkait yang dirilis hingga pertengahan Februari 2026.