Negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran, mengancam akan mengambil langkah balasan jika agresi di kawasan Teluk Persia terus berlanjut. Serangkaian serangan pesawat nirawak dan rudal yang menargetkan fasilitas vital telah secara signifikan meningkatkan risiko pecahnya konflik regional berskala besar, mendorong blok tersebut untuk menegaskan kesiapan mempertahankan keamanan dan kedaulatan teritorial anggotanya.
Peringatan Kolektif GCC dan Klaim Agresi Iran
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Senin, 2 Maret 2026, blok GCC yang terdiri dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Oman, menyatakan akan mengambil “semua langkah yang diperlukan” untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai agresi Iran. Pernyataan tersebut mengutuk serangan Iran sebagai tindakan “keji” dan “pengkhianatan”, sekaligus menegaskan hak negara-negara anggota untuk merespons.
Sebelumnya, negara-negara Teluk telah menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah mereka digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran. Namun, dengan berlanjutnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel, serta serangan Iran yang menargetkan infrastruktur penting dan fasilitas ekspor energi di negara-negara Teluk, risiko keterlibatan langsung mereka dalam eskalasi regional semakin besar.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, membantah negaranya menargetkan negara-negara tetangga di Teluk. Ia menyatakan, “Kami tidak menyerang tetangga kami di negara-negara Teluk Persia. Kami menargetkan kehadiran AS di negara-negara tersebut. Para tetangga seharusnya mengarahkan keluhan mereka kepada para pengambil keputusan dalam perang ini.” Serangan-serangan tersebut dilaporkan telah mengakibatkan lima korban jiwa, puluhan luka-luka, serta memaksa penutupan sekolah dan evakuasi jutaan warga.
Respon Individual dan Garis Merah Regional
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menegaskan bahwa negaranya, yang selama ini mengedepankan perdamaian, tidak dapat mengabaikan serangan terhadap fasilitas vital. “Serangan ini tidak bisa dibiarkan tanpa jawaban dan tanpa pembalasan; harus ada harga yang dibayar atas serangan terhadap rakyat kami,” ujarnya, menyusul laporan Kementerian Pertahanan bahwa Iran menargetkan pembangkit listrik dan fasilitas di lokasi produksi utama gas alam Qatar.
Arab Saudi, melalui pemanggilan duta besar Iran pada Minggu, menggarisbawahi kekhawatirannya. Pakar politik Saudi, Salman al-Ansari, memperingatkan bahwa kesabaran Riyadh terhadap “kecerobohan Iran” dapat memicu “perang regional besar-besaran dan multi-dimensi.” Ia menambahkan, “Kerajaan Arab Saudi tidak akan terseret ke dalam konfrontasi regional yang lebih luas, namun Iran tetap menyadari bahwa ada garis merah tertentu dan melampauinya pasti akan memicu respons.”
Di Bahrain, suasana diliputi ketakutan dan kecemasan. Analis politik Ahmed Alkhuzaie melaporkan bahwa mayoritas warga berharap perang segera berakhir. Kekhawatiran juga muncul terkait ketahanan pangan Bahrain yang sangat bergantung pada satu jalur darat ke Arab Saudi melalui King Fahd Causeway.
Dinamika Hubungan Internal GCC dan Iran
Meskipun menunjukkan sikap bersama, hubungan antarnegara Teluk tidak selalu harmonis. Antara 2017 hingga 2021, Arab Saudi dan UEA, didukung Bahrain, memblokade Qatar. Hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan UEA dengan Iran sempat terputus pada 2019 setelah serangan terhadap kedutaan Saudi di Teheran, namun dipulihkan oleh UEA pada 2022 dan oleh Arab Saudi setahun kemudian.
UEA juga memiliki sengketa teritorial lama dengan Iran terkait tiga pulau yang diperebutkan: Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa. Meskipun demikian, UEA tetap menjadi mitra dagang terbesar kedua Iran di tengah sanksi global yang berat. Pada Minggu, UEA kembali menutup kedutaannya di Teheran. Menteri Negara Urusan Luar Negeri UEA, Reem Al Hashemi, menyatakan bahwa diplomasi tetap menjadi prioritas, namun memperingatkan bahwa agresi Iran akan dibalas tegas. “Kami tidak akan duduk diam saat terus menjadi sasaran rentetan serangan seperti ini. Kawasan kami tidak membutuhkan perang lagi, tetapi jika memang harus sampai ke sana, maka itu akan terjadi,” ujarnya, menambahkan bahwa kini “bola berada di tangan Iran.”
Analis Aziz Algashian menilai bahwa karena Arab Saudi dan UEA sama-sama menjadi sasaran rudal Iran, terdapat kebutuhan jelas untuk bekerja sama dalam kerangka GCC dalam jangka pendek.
Analisis mengenai pergerakan militer dan pernyataan diplomatik ini didasarkan pada laporan media internasional, citra satelit, dan pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri negara-negara anggota GCC serta Kementerian Luar Negeri Iran yang dirilis hingga 2 Maret 2026.