Konflik di Timur Tengah memasuki hari ketiga pada Senin, 2 Maret 2026, dengan Iran mengintensifkan serangan balasan terhadap aset-aset Amerika Serikat di kawasan Teluk. Eskalasi ini terjadi menyusul konfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan yang diklaim dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, di tengah negosiasi nuklir yang masih berlangsung. Iran segera membalas di hari yang sama dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai wilayah, termasuk Israel dan pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk.
Dinamika Eskalasi di Kawasan
Perkembangan konflik hingga hari ketiga menunjukkan perluasan geografis dan peningkatan intensitas operasi militer:
Situasi di Iran
Kantor berita Mehr melaporkan lebih dari 20 orang tewas akibat serangan di Lapangan Niloofar, Teheran. Sementara itu, dua orang tewas dalam insiden yang disebut sebagai “serangan musuh” di kota Sanandaj, menurut laporan kantor berita Fars. Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News, mengeklaim bahwa operasi gabungan AS-Israel telah menewaskan 48 pemimpin Iran. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyatakan negaranya tidak akan bergabung dalam operasi militer melawan Iran.
Respons di Negara-negara Teluk
Surat kabar Al Jazeera melaporkan ledakan terdengar di Abu Dhabi dan Doha pada Senin pagi. Qatar, yang awalnya mengandalkan sistem pertahanan Patriot untuk mencegat rudal dan drone, kini mulai mengerahkan jet tempur untuk menghancurkan target di atas perairan Teluk. Militer Kuwait menyatakan telah mencegat sejumlah target udara bermusuhan di wilayah tengah negara itu, dengan asap terlihat di dekat Kedutaan Besar AS di Kuwait. Puing-puing juga jatuh di kilang Mina al-Ahmadi dekat Kuwait City, menyebabkan dua pekerja mengalami luka ringan. Rekaman video menunjukkan asap tebal di Kota al-Jahra setelah sebuah jet dilaporkan jatuh. Di Bahrain, Iran menargetkan fasilitas maritim dekat Pelabuhan Mina Salman di ibu kota Manama, di mana puing rudal yang berhasil dicegat memicu kebakaran di sebuah kapal asing di kawasan industri. Pemerintah Bahrain mengaktifkan sirene peringatan serangan udara dan meminta warga mencari tempat aman. Maskapai nasional Qatar Airways menghentikan penerbangan akibat penutupan wilayah udara.
Serangan Balasan ke Israel
Militer Israel menyatakan Iran kembali meluncurkan rudal ke wilayahnya, dengan sistem pertahanan udara terus berupaya melakukan pencegatan terhadap ancaman tersebut.
Posisi Amerika Serikat
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dijadwalkan menggelar konferensi pers, menjadi pejabat tinggi pertama yang berbicara ke publik sejak serangan dimulai. Militer AS sebelumnya mengumumkan tiga tentaranya tewas dalam operasi melawan Iran, menjadi korban pertama dari pihak AS. Presiden Donald Trump berjanji akan membalas kematian tersebut dan menegaskan operasi militer akan terus berlanjut hingga seluruh tujuan tercapai.
Dampak Regional di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yordania
Serangan udara Israel menghantam pinggiran selatan Beirut, menewaskan 20 orang dan melukai 91 lainnya. Di wilayah selatan Lebanon, 11 orang tewas dan 58 lainnya luka-luka. Serangan ini terjadi setelah kelompok Hizbullah melancarkan serangan ke Israel utara. Di Suriah, puing rudal Iran yang jatuh di Ain Terma dekat Damaskus melukai seorang pria dan tiga anaknya. Sirene peringatan juga terdengar di Kota Aqaba, Yordania, dengan asap tebal terlihat di wilayah tersebut di tengah laporan belum terkonfirmasi mengenai jatuhnya jet tempur F-15 milik AS.
Peran Inggris di Siprus
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan Inggris menyetujui permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militernya di Siprus guna mendukung operasi “defensif”. Pangkalan tersebut berada di wilayah Akrotiri dan Dhekelia, yang merupakan teritori Inggris di Siprus. Pada Senin dini hari, sebuah drone Shahed dilaporkan menghantam pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) di Akrotiri, menyebabkan kerusakan terbatas.
Konflik AS-Israel melawan Iran yang memasuki hari ketiga ini menunjukkan eskalasi yang semakin luas, dengan serangan lintas negara dan meningkatnya korban jiwa di berbagai wilayah, mengancam stabilitas regional yang lebih besar.
Analisis mengenai pergerakan militer dan insiden di berbagai lokasi ini didasarkan pada laporan dari kantor berita regional, pernyataan resmi kementerian pertahanan terkait, serta citra satelit yang dipublikasikan.