Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Iran melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone yang menargetkan 27 pangkalan militer Amerika Serikat di enam negara Teluk Arab. Aksi balasan ini merupakan respons langsung terhadap gempuran besar-besaran yang sebelumnya dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, memicu eskalasi signifikan dalam dinamika keamanan regional Timur Tengah.
Operasi Balasan Iran dan Klaim Korps Garda Revolusi
Pemerintah Iran, melalui kantor berita Fars, pada Sabtu (28/2/2026) mengonfirmasi serangan terhadap beberapa target di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Negara-negara tersebut diketahui menjadi lokasi pangkalan udara yang menampung aset militer AS. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim seluruh target militer Israel dan AS di Timur Tengah dihantam oleh “serangan dahsyat” rudal Iran.
IRGC menegaskan, “Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti sampai musuh dikalahkan secara telak,” sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Minggu (1/3/2026). Pernyataan tersebut juga menggarisbawahi bahwa seluruh aset AS di kawasan kini dianggap sebagai target sah bagi militer Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Hamid Ghanbari, menyatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran memiliki hak untuk membela diri, seraya menyampaikan penyesalan atas setiap korban yang timbul akibat eskalasi militer saat ini.
Dampak Serangan di Negara-negara Teluk
- Uni Emirat Arab: Di Abu Dhabi, setidaknya satu orang tewas setelah sejumlah rudal yang diluncurkan dari Iran berhasil dicegat. Kantor berita negara setempat tidak merinci identitas korban. Kebakaran juga terjadi di dekat hotel di kawasan wisata Palm Islands, Dubai. Kantor Media Dubai kemudian mengonfirmasi insiden di sebuah gedung Palm Jumeirah yang memicu kebakaran dan menyebabkan empat orang terluka.
- Bahrain: Serangan rudal menargetkan markas besar Armada Ke-5 Angkatan Laut AS di Ibu Kota Manama. Pemerintah Bahrain menyebutnya sebagai serangan pengkhianatan dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan keamanan kerajaan. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan drone Shahed milik Iran menabrak gedung bertingkat di dekat markas tersebut hingga terbakar. Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan sejumlah bangunan tempat tinggal di Manama turut terdampak. Duta Besar Bahrain untuk AS, Syekh Abdullah bin Rashid Al Khalifa, menyebut serangan ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan.
- Kuwait: Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan bahwa Pangkalan Udara Ali Al Salem menjadi sasaran sejumlah rudal balistik. Seluruh rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Kuwait. Juru bicara Otoritas Umum Penerbangan Sipil Kuwait, Abdullah al-Rajhi, mengatakan bahwa sebuah drone menargetkan Bandara Internasional Kuwait, menyebabkan sejumlah pegawai mengalami luka ringan serta menimbulkan kerusakan material pada gedung penumpang. Kementerian Luar Negeri Kuwait menegaskan hak negara untuk membela diri.
- Qatar: Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan pihaknya menggagalkan serangan Iran sesuai rencana keamanan yang telah disetujui. Seluruh rudal berhasil dicegat sebelum mencapai wilayah Qatar. Sumber yang berbicara kepada Al Jazeera menyebut radar peringatan dini jarak jauh di Qatar utara menjadi sasaran rudal Iran, tanpa laporan korban luka. Kementerian Luar Negeri Qatar menegaskan penargetan terhadap negaranya tidak dapat diterima dan menekankan posisinya yang menjauh dari konflik regional. Qatar sebelumnya dua kali menjadi sasaran pada tahun lalu, termasuk serangan Iran terhadap pangkalan Al Udeid pada Juni dan serangan Israel di Doha pada September.
- Arab Saudi: Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengonfirmasi bahwa Iran menargetkan Riyadh dan wilayah timur kerajaan. Serangan tersebut berhasil dipukul mundur. Pernyataan Saudi menegaskan bahwa serangan-serangan ini tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun, mengingat otoritas Iran mengetahui bahwa Kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah udara dan teritorialnya digunakan untuk menargetkan Iran.
- Irak: Koresponden Al Jazeera melaporkan Bandara Erbil di wilayah Kurdi menjadi sasaran dua kali pada Sabtu. Serangan drone yang mencoba menargetkan Bandara Internasional Erbil berhasil dicegat dan ditembak jatuh oleh pertahanan udara. Pasukan AS masih ditempatkan di wilayah otonom Kurdi Irak sebagai bagian dari koalisi internasional melawan ISIL (ISIS). Serangan drone juga dilaporkan menargetkan markas kelompok bersenjata Kataeb Hezbollah di barat daya Baghdad dan menewaskan dua orang. Laporan lanjutan menyebut serangan menghantam Jurf Al Nasr, pangkalan militer Irak yang menampung bekas kelompok paramiliter yang kini terintegrasi ke dalam tentara reguler. Sel media keamanan pemerintah Irak menyatakan bahwa “Pada pukul 19.25 (23.25 WIB), daerah Jurf Al-Nasr… Menjadi sasaran dua serangan udara.” Seorang pejabat Kataeb Hezbollah kemudian memperingatkan, “Kami akan segera mulai menyerang pangkalan-pangkalan Amerika sebagai respons atas agresi mereka.”
Peran Diplomatik Oman dan Situasi Regional Lainnya
Oman menjadi satu-satunya negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang belum menjadi sasaran serangan Iran. Koresponden Al Jazeera di Doha, Zein Basravi, menyebut Oman selama ini berperan sebagai penghubung antara Iran dan negara-negara lain di kawasan, serta memainkan peran sentral dalam pembicaraan tidak langsung terbaru antara Iran dan AS di Oman dan Jenewa.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, pada Jumat menyampaikan optimisme bahwa perdamaian sudah di depan mata setelah Iran sepakat tidak akan menimbun uranium yang diperkaya. Namun, beberapa jam kemudian, Israel dan AS melancarkan serangan, mengakhiri pembicaraan tersebut. Albusaidi menyampaikan “kekecewaan” atas pecahnya kekerasan dan mendesak Washington agar tidak semakin terlibat dalam konflik, dengan menyatakan, “Ini bukan perang Anda.”
Sementara itu, media Pemerintah Suriah melaporkan ledakan rudal menewaskan empat orang dan melukai banyak lainnya di kawasan industri Sweida. Laporan tersebut tidak menyebutkan sumber rudal yang menyebabkan ledakan.
Analisis mengenai operasi militer ini didasarkan pada laporan kantor berita Fars dan Al Jazeera, serta pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri dan Pertahanan negara-negara yang terdampak, yang dirilis hingga Minggu, 1 Maret 2026.