Militer Israel pada Rabu dini hari, 4 Maret 2026, melancarkan serangan udara intensif yang menargetkan kompleks kepemimpinan rezim Iran di jantung Teheran, menghancurkan Kantor Kepresidenan dan sejumlah fasilitas strategis lainnya. Operasi ini menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan regional, menyusul laporan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhir pekan lalu dalam sebuah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Latar Belakang Operasi dan Target Utama
Dalam pernyataan yang dirilis melalui platform Telegram, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim bahwa Angkatan Udara Israel telah “menyerang dan menghancurkan fasilitas di dalam kompleks kepemimpinan rezim (…) di jantung Teheran”. Serangan tersebut dilaporkan menargetkan Kantor Kepresidenan Iran, gedung Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, lembaga pelatihan militer, serta infrastruktur penting lainnya. IDF juga menyebutkan bahwa selama operasi berlangsung, “sejumlah besar amunisi dijatuhkan”, menegaskan intensitas dan skala serangan tersebut. Menurut IDF, operasi ini merupakan bagian dari kampanye berkelanjutan yang ditujukan terhadap Iran.
Implikasi Strategis dan Respon Internasional
Serangan terhadap kompleks kepemimpinan di Teheran ini terjadi dalam konteks yang sangat sensitif. Kantor kepresidenan yang menjadi sasaran, sebagaimana dilaporkan oleh BBC, sebelumnya digunakan oleh mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei sendiri dilaporkan meninggal dunia akhir pekan lalu di kompleksnya dalam sebuah serangan gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, sebuah peristiwa yang telah mengubah lanskap geopolitik kawasan secara drastis. Menanggapi situasi ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (3/3/2026) memperingatkan bahwa konflik dengan Iran berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. “Sejak awal, kami memperkirakan empat hingga lima minggu, tetapi kami mampu bertahan jauh lebih lama dari itu,” ujar Trump, dikutip dari NDTV. Trump juga menegaskan kesiapan negaranya untuk menghadapi konflik yang berkepanjangan, bahkan menyatakan operasi militer tersebut dapat berlangsung lebih dari sebulan. Pernyataan ini mengindikasikan potensi eskalasi lebih lanjut dan implikasi jangka panjang terhadap stabilitas regional.
Analisis mengenai operasi militer ini didasarkan pada pernyataan resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang dirilis melalui saluran komunikasi mereka, serta laporan dari kantor berita AFP, BBC, dan NDTV yang memuat pernyataan pejabat terkait.