Internasional

Hongaria: PM Orban Sebut Ukraina “Musuh”, Tolak Aksesi UE di Tengah Tekanan Energi

Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, secara terbuka menyebut Ukraina sebagai “musuh” negaranya dalam sebuah pidato di Kota Szombathely pada Sabtu (7/2/2026). Pernyataan kontroversial ini muncul di tengah desakan Kyiv agar Uni Eropa menghentikan ketergantungan pada pasokan energi Rusia, sebuah langkah yang dinilai Orban akan merugikan perekonomian Hongaria dan memicu lonjakan biaya hidup.

Ketegangan Energi dan Posisi Hongaria

Orban menuduh Ukraina terus menekan Brussel untuk menghentikan akses negara-negara anggota Uni Eropa, termasuk Hongaria, terhadap energi Rusia yang lebih murah. Menurutnya, tanpa pasokan energi tersebut, beban biaya rumah tangga warga Hongaria dapat melonjak signifikan, dengan estimasi kenaikan biaya perumahan dan utilitas sebesar 8 persen per tahun.

Hongaria, yang merupakan anggota NATO, sangat bergantung pada energi Rusia. Sebagian besar minyaknya disalurkan melalui jaringan pipa Druzhba, sementara gas alam diperoleh via jalur TurkStream yang melintasi Bulgaria dan Serbia. Menteri Luar Negeri Hongaria, Peter Szijjarto, sebelumnya menyatakan bahwa pada tahun 2025, Hongaria diperkirakan menerima lebih dari 8,5 juta ton minyak dan lebih dari 7 miliar meter kubik gas alam dari Rusia. Budapest secara konsisten menolak rencana Brussel untuk menghentikan pembelian minyak dan gas Rusia oleh negara-negara Uni Eropa, dengan alasan dampak negatif terhadap ekonomi domestik.

Pernyataan Orban ini disampaikan tak lama setelah Dewan Uni Eropa menyetujui rencana penghentian pembelian gas Rusia paling lambat tahun 2027. Hongaria dan Slovakia, yang masih sangat bergantung pada energi Rusia, telah menggugat keputusan tersebut ke Mahkamah Eropa. Kebijakan ini, yang diajukan sebagai keputusan perdagangan, memungkinkan aturan lolos melalui mekanisme suara mayoritas meskipun ditentang oleh Budapest dan Bratislava.

Penolakan Aksesi Ukraina ke Uni Eropa

Selain isu energi, Orban juga kembali menegaskan penolakannya terhadap ambisi Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa. Ia menyatakan bahwa meskipun Hongaria harus bekerja sama dengan Ukraina sebagai negara tetangga, keanggotaan penuh Kyiv di blok tersebut ditolak. “Orang Hongaria tidak seharusnya menginginkan kerja sama militer atau ekonomi dengan Ukraina, karena mereka menyeret kita ke dalam perang,” ujar Orban.

Sikap Hongaria ini konsisten dengan rekam jejaknya yang kerap menggunakan hak veto untuk menghambat sanksi tambahan terhadap Rusia serta bantuan Uni Eropa bagi Ukraina, menunjukkan divergensi kebijakan yang signifikan di dalam blok tersebut.

Implikasi Politik Domestik dan Internasional

Pernyataan keras Orban ini juga muncul di tengah dinamika politik domestik Hongaria menjelang pemilihan parlemen pada April mendatang. Meskipun jajak pendapat menunjukkan Orban tertinggal dari pemimpin oposisi Peter Magyar, Orban menepis hasil survei tersebut sebagai “propaganda”.

Secara internasional, Orban juga mengumumkan rencana kunjungannya ke Washington DC untuk menghadiri pertemuan perdana “Board of Peace”, sebuah inisiatif yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kunjungan ini berpotensi menyoroti lebih lanjut posisi unik Hongaria dalam lanskap geopolitik global.

Analisis mengenai pernyataan dan kebijakan Hongaria ini didasarkan pada pidato publik Perdana Menteri Viktor Orban pada 7 Februari 2026, serta laporan resmi dari Kementerian Luar Negeri Hongaria dan dokumen kebijakan Uni Eropa terkait energi.