Pemerintah Indonesia secara resmi menghentikan rencana akuisisi jet tempur berat F-15EX Eagle II dari produsen kedirgantaraan asal Amerika Serikat, Boeing. Keputusan strategis ini menandai pergeseran signifikan dalam peta jalan modernisasi kekuatan udara nasional yang sebelumnya diproyeksikan akan mengoperasikan kombinasi platform Barat dan Eropa secara simultan guna memperkuat kedaulatan wilayah udara nasional.
Konfirmasi Penghentian Program oleh Boeing
Dalam ajang Singapore Airshow 2026, Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Strategi Boeing Defense, Space and Security, Bernd Peters, mengonfirmasi bahwa program penjualan F-15EX untuk Indonesia tidak lagi menjadi kampanye aktif bagi perusahaan. Meskipun nota kesepahaman (MoU) untuk pengadaan hingga 24 unit jet tempur varian F-15IND telah ditandatangani di St. Louis pada Agustus 2023, status kesepakatan tersebut kini dinyatakan berakhir tanpa penjelasan mendalam mengenai penyebab spesifik pembatalannya.
Program ini sebelumnya diproses melalui skema Foreign Military Sales (FMS) setelah Departemen Luar Negeri AS memberikan persetujuan potensi penjualan pada Februari 2022. Namun, ketidakpastian pendanaan dan dinamika politik pertahanan domestik diduga menjadi faktor utama di balik keputusan Jakarta untuk menarik diri dari kesepakatan bernilai miliaran dolar tersebut.
Dinamika Anggaran dan Prioritas Alutsista
Analis pertahanan menilai pembatalan ini berkaitan erat dengan beban fiskal dan kompleksitas logistik dalam mengelola armada yang heterogen. Saat ini, Indonesia tengah memprioritaskan penyelesaian kontrak 42 jet tempur Rafale dari Dassault Aviation, Prancis, yang pengirimannya telah mulai berjalan. Selain itu, komitmen terhadap proyek jet tempur generasi 4.5 KF-21 Boramae bersama Korea Selatan tetap menjadi prioritas strategis meskipun sempat terkendala masalah pembayaran.
| Platform Pesawat | Status Operasional / Rencana | Asal Negara |
|---|---|---|
| F-16 C/D Block 52 | Operasional (Modernisasi) | Amerika Serikat |
| Sukhoi Su-27/30 | Operasional (Terkendala Sanksi) | Rusia |
| Dassault Rafale | Proses Pengiriman (42 Unit) | Prancis |
| KF-21 Boramae | Tahap Pengembangan & Komitmen | Korea Selatan |
Aliansi Baru dengan Leonardo dan Modernisasi LIFT
Di tengah pembatalan F-15EX, Kementerian Pertahanan RI justru memperkuat kerja sama dengan perusahaan pertahanan Italia, Leonardo. Penandatanganan Letter of Intent (LOI) untuk pengadaan pesawat M-346F Block 20 menjadi sinyal kuat bahwa Jakarta lebih memilih melakukan modernisasi pada segmen pesawat latih tempur (LIFT) guna menggantikan armada Hawk 100/200 yang telah menua.
Langkah ini mencerminkan strategi efisiensi anggaran di mana Indonesia lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan operasional mendesak dan penguatan industri pertahanan dalam negeri melalui kemitraan strategis yang menawarkan transfer teknologi lebih fleksibel. Boeing sendiri menyatakan tetap berkomitmen mendukung Indonesia dalam program lain, termasuk pemeliharaan armada helikopter AH-64 Apache milik TNI AD.
Analisis mengenai pergeseran postur pertahanan udara ini didasarkan pada pernyataan resmi Boeing Defense dan laporan pengadaan Kementerian Pertahanan RI yang dirilis selama Singapore Airshow pada 5 Februari 2026.