Internasional

Inggris: Kerahkan Jet Tempur F-35B ke Siprus di Tengah Eskalasi Ketegangan AS-Iran

Pemerintah Inggris telah mengerahkan enam unit jet tempur siluman F-35B ke Pangkalan Udara RAF Akrotiri di Siprus pada Jumat pekan lalu, sebuah langkah yang diambil di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Penempatan ini bertujuan memperkuat perlindungan instalasi militer Inggris serta kawasan sekitarnya, mengantisipasi potensi eskalasi konflik di Timur Tengah, meskipun upaya diplomatik antara Washington dan Teheran menunjukkan sinyal positif.

Pengerahan F-35B Inggris dan Misi Pertahanan Regional

Enam unit jet tempur generasi kelima F-35B, yang diterbangkan dari RAF Marham, tiba di Siprus pada 6 Februari 2026. Pesawat-pesawat ini akan bergabung dengan armada jet Typhoon yang telah lebih dulu ditempatkan di wilayah tersebut. Berbeda dengan misi ofensif Typhoon dalam Operasi Shader yang menargetkan sisa-sisa kelompok ISIS di Irak dan Suriah, F-35B akan menjalankan peran murni defensif, sebagaimana dilaporkan The Times.

Bulan lalu, empat unit Typhoon dari Skuadron Gabungan Inggris-Qatar No. 12 juga dikirim ke Qatar atas permintaan Pemerintah Doha. Pengerahan ini mencerminkan kekhawatiran regional terhadap ketidakstabilan yang meningkat di kawasan Teluk.

Dinamika Diplomatik dan Eskalasi Militer AS-Iran

Di tengah pengerahan militer tersebut, jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali terbuka. Untuk pertama kalinya sejak serangan gabungan AS-Israel pada Juni tahun lalu yang menghancurkan infrastruktur nuklir Iran, perwakilan kedua negara menggelar pertemuan langsung di Muscat, Oman, pada Jumat pekan lalu. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan dialog pada pekan berikutnya.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimisme pasca-pertemuan, menyatakan, “Kami melakukan pembicaraan yang sangat baik tentang Iran. Iran terlihat sangat ingin membuat kesepakatan.” Nada serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang menyebut pertemuan itu berlangsung dalam suasana yang sangat positif dan argumen telah dipertukarkan secara terbuka.

Namun, di sisi lain, kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk justru bertambah, melampaui level sebelum operasi militer Juni lalu. Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln, yang mengangkut jet F-35 dan kapal perusak bersenjata rudal jelajah Tomahawk, kini beroperasi di Laut Arab. AS juga mengerahkan sejumlah aset tambahan, termasuk belasan jet tempur F-15, drone MQ-9 Reaper, pesawat serang darat A-10C, dan pesawat suplai Osprey, yang beroperasi dari pangkalan di Yordania dan Oman.

Tiga unit pesawat komunikasi tempur E-11A kini ditempatkan di Pangkalan Udara Al Kharj, Arab Saudi, meningkat dari hanya satu pesawat pada masa operasi sebelumnya. Ketegangan di kawasan semakin nyata setelah sebuah drone Iran yang terbang agresif mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln ditembak jatuh pekan lalu.

Analis pertahanan sumber terbuka, Stefan Watkins, mencatat adanya peningkatan signifikan pada pesawat pengintai dan peringatan dini di wilayah tersebut. Menurut Watkins, pola tersebut “mungkin menunjukkan bahwa serangan akan datang lebih cepat daripada nanti,” seperti dikutip The Times.

Resistensi Regional dan Perbedaan Pandangan Sekutu

Meskipun kekuatan militer AS kian ditingkatkan, sejumlah mitra utama Washington di kawasan justru menyatakan penolakan terhadap opsi serangan militer baru ke Iran. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut enggan mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk operasi militer. Keduanya juga memperingatkan risiko menyerang Iran tanpa jaminan keberhasilan, mengingat kondisi Iran yang dianggap sudah cukup lemah.

Sumber dari pemerintahan AS mengungkapkan bahwa Presiden Trump tampak lebih berhati-hati dibandingkan sebelumnya. Berbeda dengan sikap pada Juni lalu, Trump kini disebut tidak lagi melihat program nuklir Iran sebagai ancaman langsung. “Justru pihak Israel yang menginginkan serangan. Presiden tidak berada di posisi itu,” kata seorang pejabat senior kepada Axios.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus mendorong Washington agar melancarkan serangan komprehensif terhadap program rudal balistik Teheran. Ia bahkan mengirim sejumlah pejabat militer dan intelijen ke AS untuk memperkuat upaya lobi tersebut.

Analisis mengenai pengerahan militer dan dinamika geopolitik ini didasarkan pada laporan media internasional, citra satelit, serta pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Inggris dan pejabat tinggi Amerika Serikat yang dirilis hingga Selasa, 10 Februari 2026.