Internasional

Inggris Pererat Aliansi Keamanan dengan Uni Eropa Guna Kurangi Ketergantungan pada Amerika Serikat

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, secara resmi menyatakan berakhirnya isolasi keamanan pasca-Brexit dengan menyerukan integrasi pertahanan yang lebih mendalam antara Britania Raya dan Uni Eropa (UE). Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich pada Sabtu (14/2/2026), Starmer menekankan urgensi penguatan otonomi strategis Eropa guna memitigasi ketidakpastian hubungan transatlantik di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Visi Otonomi Strategis dan Kekuatan Kolektif Eropa

Starmer mengidentifikasi Eropa sebagai raksasa tidur yang memiliki potensi ekonomi sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan Rusia. Namun, ia memperingatkan bahwa kapabilitas pertahanan benua tersebut saat ini masih terfragmentasi akibat adanya celah operasional dan duplikasi masif dalam industri militer. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik menyusul retorika agresif Washington terhadap kedaulatan wilayah di kawasan Nordik.

Integrasi Industri Pertahanan

Dalam upaya mempercepat produksi alutsista, London mengusulkan pembentukan basis industri pertahanan bersama dengan Uni Eropa. Starmer menegaskan bahwa keamanan Inggris dan Eropa bersifat interdependen dan tidak dapat dipisahkan secara geopolitik dalam menghadapi ancaman eksternal.

“Tidak ada keamanan Inggris tanpa keamanan Eropa. Tidak ada keamanan Eropa tanpa keamanan Inggris. Kita harus bekerja sama untuk membangun kapabilitas yang mandiri,” tegas Starmer dalam forum tersebut.

Respon Oposisi dan Kritik Kedaulatan

Rencana integrasi ini memicu reaksi keras dari faksi oposisi di London. Menteri Luar Negeri bayangan dari Partai Konservatif, Dame Priti Patel, menuduh pemerintah sedang mengikis kedaulatan nasional demi integrasi yang lebih luas dengan Brussel. Patel menilai kebijakan ini berisiko merusak hubungan istimewa (special relationship) antara Inggris dan Amerika Serikat yang telah terjaga selama dekade terakhir.

Pihak oposisi juga menyoroti bahwa ketergantungan pada Eropa tidak boleh menjadi cek kosong yang membebani anggaran negara. Mereka mengkritik posisi Starmer terhadap China yang dianggap melemahkan posisi tawar strategis Inggris di panggung global.

Analisis Risiko dan Tatanan Internasional

Laporan Keamanan Munich 2026 mengategorikan situasi saat ini sebagai fase politik bola penghancur, di mana tatanan internasional berbasis aturan yang dipimpin AS sejak 1945 sedang mengalami dekomposisi. Strategi baru Inggris ini dipandang sebagai upaya penyesuaian terhadap pergeseran kekuatan global dan tuntutan pembagian beban (burden sharing) yang lebih adil dalam aliansi pertahanan regional.

Analisis mengenai pergeseran kebijakan pertahanan ini didasarkan pada pidato resmi Perdana Menteri Inggris dan dokumen Laporan Keamanan Munich 2026 yang dirilis pada 14 Februari 2026.