Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026) akibat serangan gabungan Amerika Serikat-Israel di kediamannya, telah memicu spekulasi mengenai suksesi kepemimpinan di Teheran. Di tengah ketidakpastian ini, nama Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran (SNSC), muncul sebagai figur sentral yang diyakini akan mengambil alih kendali negara, berpotensi membentuk ulang arah kebijakan strategis Iran di kawasan.
Peran Strategis Ali Larijani
Ali Larijani, yang dikenal sebagai orang kepercayaan mendiang Ayatollah Ali Khamenei, telah kembali menjabat sebagai Kepala SNSC tak lama setelah konflik Iran-Israel pecah pada tahun 2025. Posisi ini memberinya wewenang untuk mengoordinasikan strategi pertahanan nasional serta mengawasi penuh program nuklir Iran. Pengalamannya yang luas di sektor militer, media, dan legislatif memberinya pemahaman mendalam tentang kompleksitas sistem politik Iran.
Menurut Ali Vaez, Direktur Proyek International Crisis Group untuk Iran, Larijani kini memainkan peran yang lebih menonjol dibandingkan para pendahulunya. Vaez menggambarkan Larijani sebagai ‘orang dalam sejati’ dan ‘operator cerdik’ yang memahami mekanisme sistem serta kecenderungan Pemimpin Tertinggi.
Latar Belakang dan Pengaruh Keluarga
Lahir di Najaf, Irak pada tahun 1957 dari keluarga ulama terkemuka yang dekat dengan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, latar belakang Larijani memberinya legitimasi dan jaringan politik yang kuat. Ia merupakan veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selama perang Iran-Irak, kemudian memimpin lembaga penyiaran negara IRIB selama satu dekade (1994-2004) sebelum menjabat sebagai Ketua Parlemen (2008-2020).
Pada tahun 1996, Larijani diangkat sebagai perwakilan Khamenei di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Meskipun sempat mengalami kekalahan dalam pemilihan presiden dan diskualifikasi pada pencalonan sebelumnya, kembalinya Larijani ke pucuk keamanan nasional diinterpretasikan sebagai sinyal kembalinya manajemen keamanan yang pragmatis di Iran.
Kebijakan Nuklir dan Dinamika Regional
Dalam konteks program nuklir Iran, Larijani secara konsisten membela hak kedaulatan Teheran untuk pengayaan uranium, namun tetap mendukung penyelesaian melalui jalur negosiasi. Ia telah memperingatkan bahwa tekanan eksternal yang berkelanjutan dapat memicu perubahan sikap nuklir Iran demi kepentingan pertahanan diri.
Larijani menegaskan, “Kami tidak bergerak menuju senjata (nuklir), tetapi jika Anda melakukan kesalahan dalam masalah nuklir Iran, Anda akan memaksa Iran untuk bergerak ke arah itu karena mereka harus membela diri,” seperti yang ia sampaikan kepada televisi pemerintah. Setelah konflik dengan Israel, ia menganggap kekhawatiran Barat terhadap program nuklir Iran sebagai dalih untuk konfrontasi yang lebih luas.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Larijani berulang kali menekankan bahwa negosiasi dengan Washington harus tetap terbatas pada isu nuklir dan membela pengayaan uranium sebagai hak kedaulatan Iran. Ia menilai perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat memiliki kemungkinan kecil terjadi, meyakini bahwa Washington akan menyadari risiko kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan potensi keuntungan dari konflik bersenjata.
Analisis mengenai dinamika suksesi kepemimpinan dan kebijakan strategis Iran ini didasarkan pada laporan media internasional seperti Al Jazeera dan AFP, serta pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Iran yang dirilis pada periode terkait.