Pada Rabu, 25 Februari 2026, Ali Larijani, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran, diproyeksikan menjadi figur sentral di balik layar negosiasi nuklir krusial antara Teheran dan Washington yang akan berlangsung di Jenewa. Dikenal sebagai operator politik yang cerdik, Larijani memegang peran vital dalam menyeimbangkan loyalitas ideologis dengan pragmatisme tata kelola negara, membentuk arah diplomasi strategis Iran di tengah dinamika geopolitik yang kompleks.
Arsitek Diplomasi Nuklir Iran
Meskipun tidak secara langsung duduk di meja perundingan, posisi Larijani sebagai Kepala SNSC memberinya otoritas penuh atas perumusan strategi pertahanan dan pengawasan program nuklir Iran. Pengaruhnya tercermin dari penunjukannya baru-baru ini untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa, serta sejumlah pejabat negara Teluk yang berperan sebagai mediator antara Teheran dan Washington. Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, menggarisbawahi pentingnya Larijani, menyatakan, “Dia sekarang memainkan peran yang lebih menonjol daripada kebanyakan pendahulunya. Larijani adalah orang dalam sejati, seorang operator yang cerdik, memahami cara kerja sistem dan memahami kecenderungan pemimpin tertinggi.”
Latar Belakang dan Pengalaman Strategis
Lahir di Najaf, Irak, pada tahun 1957 dari keluarga ulama terkemuka yang dekat dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini, Larijani memiliki latar belakang yang mengakar dalam struktur kekuasaan Iran. Ia meraih gelar PhD di bidang Filsafat Barat dari Universitas Teheran dan merupakan veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selama perang Iran-Irak. Karier panjangnya mencakup kepemimpinan lembaga penyiaran negara IRIB (1994-2004) dan Ketua Parlemen (2008-2020). Ia juga pernah menjabat sebagai perwakilan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di SNSC sejak 1996. Kembalinya Larijani ke pucuk pimpinan SNSC tak lama setelah konflik Iran-Israel pecah pada tahun 2025, menandai kembalinya manajemen keamanan yang pragmatis dalam menghadapi tantangan regional.
Posisi Iran dalam Program Nuklir
Larijani secara konsisten membela hak kedaulatan Iran untuk pengayaan uranium, namun tetap mendukung penyelesaian cepat melalui jalur negosiasi. Ia memperingatkan bahwa tekanan eksternal yang berkelanjutan dapat memicu perubahan sikap nuklir Iran demi membela diri. Dalam pernyataannya kepada televisi pemerintah, ia menegaskan, “Kami tidak bergerak menuju senjata (nuklir), tetapi jika Anda melakukan kesalahan dalam masalah nuklir Iran, Anda akan memaksa Iran untuk bergerak ke arah itu karena mereka harus membela diri.” Setelah konflik dengan Israel, ia menggambarkan kekhawatiran Barat atas program nuklir Iran sebagai dalih untuk konfrontasi yang lebih luas. Larijani berulang kali menegaskan bahwa negosiasi dengan Washington harus tetap terbatas pada isu nuklir, membela pengayaan uranium sebagai hak kedaulatan Iran. “Kami menginginkan penyelesaian yang cepat untuk masalah ini,” katanya dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Proyeksi Geopolitik dan Ambisi Politik
Mengenai potensi konflik bersenjata, Larijani menilai perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat kecil kemungkinannya terjadi. Ia berpandangan bahwa Washington akan menyadari risiko kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapat dari eskalasi militer. Ali Vaez juga meyakini bahwa perhitungan politik Larijani dibentuk oleh ambisi jangka panjangnya. “Dia adalah pria ambisius yang mengincar jabatan yang lebih tinggi. Larijani jelas ingin menjadi presiden,” kata Vaez, menambahkan bahwa hal ini menciptakan insentif untuk menjaga sistem dan tidak membakar kartunya dalam arena politik.
Analisis mengenai peran strategis Ali Larijani ini didasarkan pada laporan dari Agence France-Presse (AFP) yang dirilis pada Rabu, 25 Februari 2026, serta wawancara dengan International Crisis Group, televisi pemerintah Iran, dan Al Jazeera.