Internasional

Iran Eskalasi Serangan Drone dan Rudal ke Pangkalan AS serta Infrastruktur Sipil di Lima Negara Teluk

Pada Minggu, 1 Maret 2026, Iran melancarkan gelombang serangan balasan yang meluas, menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) dan infrastruktur sipil di lima negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Eskalasi ini menandai serangan pertama di wilayah Kesultanan Oman, yang sebelumnya dikenal sebagai mediator netral dalam ketegangan regional, serta memperparah ketegangan di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait.

Perluasan Serangan Iran di Kawasan Teluk

Kantor Berita Oman, mengutip sumber keamanan, melaporkan bahwa pelabuhan komersial Duqm menjadi sasaran dua drone. Satu drone menghantam akomodasi pekerja bergerak, melukai seorang pekerja asing, sementara puing-puing dari drone lainnya mendarat di dekat tangki bahan bakar tanpa menyebabkan korban jiwa atau kerusakan material. Tak lama berselang, sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Oman juga diserang, menyebabkan empat awak terluka dan evakuasi kru kapal.

Gelombang serangan ini menyusul insiden sehari sebelumnya di Uni Emirat Arab (UEA), di mana dua warga sipil tewas di Abu Dhabi setelah Iran menargetkan pangkalan militer dan infrastruktur sipil. Kementerian Pertahanan UEA menyatakan bahwa Iran menembakkan 137 rudal dan 209 drone ke berbagai target di negara tersebut pada Sabtu. Di Dubai, dua orang terluka akibat puing drone yang berhasil dicegat, sementara di Abu Dhabi, seorang perempuan dan anak terluka setelah puing drone menghantam fasad bangunan di Etihad Towers.

Di Bahrain, drone menghantam bandara di ibu kota Manama pada Minggu pagi, menyebabkan kerusakan minor. Kedutaan Besar AS di Manama mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk menghindari hotel di ibu kota, menyusul laporan bahwa hotel Crowne Plaza terdampak serangan. Sehari sebelumnya, drone dan pecahan peluru juga menghantam gedung-gedung perumahan di Manama.

Ledakan juga dilaporkan terdengar di sejumlah kota Teluk, termasuk Dubai, Doha, dan Manama, dengan ledakan tambahan di Riyadh. Di Qatar, yang menjadi lokasi pangkalan militer AS terbesar di kawasan, pejabat setempat menyebut Iran meluncurkan 65 rudal dan 12 drone. Meskipun sebagian besar proyektil berhasil dicegat, delapan orang terluka, satu di antaranya dalam kondisi kritis. Saksi mata melaporkan asap membubung dari pangkalan-pangkalan AS di Abu Dhabi dan Manama, termasuk markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, serta pangkalan AS di Kuwait.

Reaksi Internasional dan Analisis Strategis

Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, mengecam tindakan Teheran, menyebut serangan terhadap negara-negara Teluk sebagai kesalahan perhitungan strategis. “Ini mengisolasi Iran pada saat yang kritis. Perang Anda bukan dengan tetangga Anda,” kata Gargash, mendesak Iran untuk kembali ke akal sehat dan menghadapi tetangga secara rasional.

Analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, menilai bahwa posisi negara-negara Teluk kini semakin sulit. “Negara-negara Teluk saat ini benar-benar berada di garis depan perang brutal ini,” ujar Jacobs. Ia menambahkan bahwa meskipun negara-negara Teluk ingin mendukung de-eskalasi dan diplomasi, komitmen ini sedang diuji. “Jika Iran terus menyerang negara-negara ini dan meningkatkan eskalasi lebih jauh, akan sangat sulit bagi mereka untuk hanya duduk diam dan tidak melakukan apa pun,” pungkas Jacobs.

Implikasi Keamanan Regional

Negara-negara Arab penghasil minyak dan gas di seberang Teluk dari Iran merupakan sekutu lama Amerika Serikat dan menjadi tuan rumah bagi sejumlah pangkalan militer AS yang krusial. Situasi yang terus memanas ini menempatkan kawasan Teluk di ambang konflik yang lebih luas, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Serangan yang menargetkan instalasi militer dan infrastruktur sipil secara bersamaan menunjukkan perubahan signifikan dalam dinamika konflik, dengan potensi dampak ekonomi dan politik yang substansial bagi stabilitas regional.

Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada laporan media resmi setempat, pernyataan Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab, dan imbauan keamanan dari Kedutaan Besar AS di Bahrain yang dirilis pada 1 Maret 2026.