Internasional

Iran Intensifkan Serangan Balasan di Teluk, Oman Kini Terlibat dalam Dinamika Eskalasi Regional

MUSCAT – Oman, yang sebelumnya dikenal sebagai mediator netral dalam ketegangan regional, kini menghadapi dampak langsung dari eskalasi konflik di Teluk. Pada Minggu, 01 Maret 2026, pelabuhan komersial Duqm dan sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Oman menjadi sasaran serangan, menandai pergeseran signifikan dalam dinamika keamanan kawasan.

Insiden ini terjadi di tengah gelombang serangan balasan yang dilancarkan Iran terhadap sejumlah negara Teluk pasca-operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan Iran sebelumnya menargetkan infrastruktur militer AS di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Latar Belakang Eskalasi Regional

Eskalasi di Teluk dipicu oleh serangan udara gabungan AS-Israel terhadap Iran. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan retaliasi yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain dikonfirmasi menjadi target, sementara Pangkalan Udara Ali al-Salem di Kuwait melaporkan pencegatan rudal balistik.

Qatar dan Uni Emirat Arab juga melaporkan insiden pencegatan serangan, meskipun tetap mengakibatkan korban luka dan kerusakan material. Pola serangan Iran secara konsisten menargetkan negara-negara yang menjadi tuan rumah fasilitas militer utama AS, yang dinilai memfasilitasi operasi ofensif Washington.

Peran Strategis Pangkalan Militer AS di Teluk

Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab merupakan anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang menampung pangkalan tempur permanen AS. Keberadaan fasilitas ini menjadikan mereka titik fokus dalam setiap retaliasi Iran. Sebaliknya, Oman secara historis mempertahankan posisi yang berbeda.

Washington memang memiliki akses rotasional dan logistik ke fasilitas seperti RAFO Masirah di Oman, namun fasilitas tersebut tidak berfungsi sebagai pusat operasi ofensif langsung terhadap Iran. Perbedaan ini sebelumnya dianggap sebagai faktor utama mengapa Oman luput dari serangan awal Iran.

Dinamika Mediasi Diplomatik Oman

Selain konfigurasi militer, Oman telah lama memposisikan diri sebagai jembatan diplomatik antara Teheran dan Washington. Peran mediasi ini terlihat jelas dari pertemuan Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, dengan Wakil Presiden AS JD Vance sesaat sebelum eskalasi terbaru.

Menurut Oman News Agency, Al Busaidi menyatakan bahwa perundingan nuklir telah mencapai “kemajuan yang signifikan, penting, dan belum pernah terjadi sebelumnya,” dengan optimisme bahwa perdamaian “dalam jangkauan.” Ia juga menyoroti kesediaan Iran untuk tidak menimbun uranium yang diperkaya sebagai terobosan diplomatik. Namun, serangan AS-Israel ke Iran hanya beberapa jam setelah pernyataan tersebut secara efektif menggagalkan momentum perundingan.

Dampak Serangan Terhadap Kedaulatan Oman

Meskipun awalnya tidak menjadi target, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Oman tidak sepenuhnya terhindar dari dampak eskalasi. Kantor berita resmi Oman melaporkan bahwa pelabuhan komersial Duqm menjadi sasaran dua drone. “Seorang sumber keamanan melaporkan bahwa pelabuhan komersial Duqm menjadi target dua drone,” demikian pernyataan Oman News Agency.

Satu drone menghantam akomodasi pekerja bergerak dan melukai satu pekerja asing, sementara puing dari drone lainnya jatuh di dekat tangki bahan bakar tanpa menimbulkan korban jiwa atau kerusakan material. Tak lama kemudian, sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Oman juga menjadi target, mengakibatkan evakuasi awak dan empat korban luka.

Meskipun sumber yang tersedia tidak secara eksplisit menyebutkan pihak yang melancarkan serangan terhadap Oman, insiden tersebut terjadi di tengah kampanye balasan Iran di kawasan Teluk. Peristiwa ini menggarisbawahi kompleksitas dan meluasnya dampak konflik regional, bahkan bagi negara-negara yang berupaya menjaga netralitas diplomatik.

Analisis mengenai pergerakan militer dan insiden serangan ini didasarkan pada laporan dari Oman News Agency, pernyataan resmi Kementerian Pertahanan negara-negara Teluk yang terdampak, serta laporan intelijen publik terkait aktivitas militer di kawasan pada periode 28 Februari hingga 01 Maret 2026.