Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada Senin, 02 Maret 2026, merilis pernyataan yang merinci rekam jejak intervensi Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran. Dokumen tersebut menyoroti permusuhan panjang yang diklaim mencakup kudeta politik, dukungan militer, sanksi ekonomi, hingga serangan langsung terhadap target Iran, dengan peristiwa terbaru pada Februari 2026.
Rekam Jejak Intervensi AS dalam Perspektif Teheran
Pernyataan Kedubes Iran menguraikan sembilan poin utama yang menggambarkan campur tangan Washington dalam urusan internal dan keamanan Iran:
-
Kudeta 1953 dan Awal Permusuhan Modern
Intervensi Amerika Serikat terhadap Iran, menurut Kedubes Iran, bermula dari kudeta pada 19 Agustus 1953 (28 Mordad 1332) yang menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh. Peristiwa ini disebut sebagai titik awal permusuhan panjang yang berlanjut dalam berbagai bentuk tekanan politik dan keamanan. -
Sanksi Pascarevolusi 1979
Setelah Revolusi Iran pada 1979, Washington memberlakukan sanksi politik dan ekonomi pada masa awal kemenangan revolusi. Teheran menilai sanksi ini bertujuan menggagalkan revolusi yang diklaim sebagai kemenangan kehendak rakyat Iran tanpa penggunaan senjata. -
Dukungan terhadap Irak dalam Perang 1980–1988
Pernyataan Kedubes juga menyoroti dukungan AS terhadap rezim Saddam Hussein dalam perang Irak-Iran yang berlangsung delapan tahun, sejak September 1980 hingga Agustus 1988. Dalam konflik tersebut, lebih dari 155.000 orang tewas di medan tempur langsung dan lebih dari 16.000 orang kehilangan nyawa akibat serangan rudal dan udara terhadap kota-kota. -
Penembakan Pesawat Iran Air 1988
Insiden penembakan pesawat penumpang Iran Air di atas Teluk Persia pada Juli 1988 oleh kapal perang USS Vincennes milik Amerika Serikat juga disinggung. Peristiwa tragis ini mengakibatkan 291 penumpang tewas, termasuk 66 anak-anak. -
Dukungan terhadap Organisasi yang Disebut Teroris
Kedubes Iran menuding adanya dukungan AS terhadap organisasi yang disebut teroris, termasuk Organisasi Mujahidin Khalq (MKO), dalam serangkaian pembunuhan terhadap warga sipil, pejabat politik dan militer, serta ilmuwan nuklir Iran sejak 1980-an. Dokumen itu menyebutkan, Iran mencatat 17.000 korban teror yang disebut salah satu korban terbesar terorisme di dunia. -
Sanksi Ekonomi Sejak 2010
Amerika Serikat disebut meningkatkan sanksi ekonomi terhadap Iran sejak 2010 dengan dalih yang dinilai tidak berdasar oleh Teheran. Sanksi ini pun menimbulkan kesulitan ekonomi bagi rakyat Iran. -
Pembunuhan Komandan Militer Iran pada 2020
Pernyataan tersebut menyinggung pembunuhan salah satu komandan senior militer Iran atas perintah langsung Presiden Amerika saat itu, Donald Trump, pada Januari 2020 di Baghdad. Komandan tersebut disebut berada di Irak atas undangan pejabat militer Irak. -
Rangkaian Serangan 2024–2025
Dokumen Kedubes mencantumkan dukungan AS ke Israel terhadap serangan ke Konsulat Iran di Damaskus pada April 2024. Dukungan disebut kembali muncul dalam serangan terhadap pusat-pusat militer dan pertahanan Iran pada 26 Oktober 2024. Pernyataan ini turut menyinggung sokongan terhadap serangan ke Iran pada 13 Juni 2025 yang disebut menyebabkan kematian para komandan militer senior. Amerika juga disebut melakukan serangan langsung terhadap fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni 2025. -
Peristiwa Januari-Februari 2026
Dalam bagian awal dokumen, Kedutaan Besar Iran menyebut serangan pada 28 Februari 2026 terhadap lokasi-lokasi sipil termasuk sekolah-sekolah, yang menargetkan warga Iran yang sedang berpuasa di bulan Ramadhan. Dokumen juga menyebut adanya pembajakan protes damai sipil pada Januari 2026 yang berubah menjadi kerusuhan, menyebabkan 2.427 orang gugur dari total 3.117 korban jiwa.
Berbagai peristiwa tersebut, menurut Kedubes Iran, dipandang sebagai bagian dari rekam jejak panjang intervensi dan permusuhan Amerika terhadap Iran selama beberapa puluh tahun terakhir.
Analisis mengenai rekam jejak hubungan bilateral ini didasarkan pada pernyataan resmi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta yang dirilis pada 01 Maret 2026.