Internasional

Iran: Kematian Khamenei, Protes di Baghdad, dan Respons Militer di Irak Utara

Kematian Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, pada Minggu, 1 Maret 2026, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, memicu gelombang protes di Baghdad dan eskalasi keamanan di Irak utara. Peristiwa ini segera meningkatkan ketegangan regional dan memicu respons keras dari Teheran.

Gejolak di Baghdad Pasca-Kematian Khamenei

Di Baghdad, Irak, demonstrasi besar pecah di dekat Zona Hijau, kawasan diplomatik yang dijaga ketat. Massa yang marah berupaya bergerak menuju Kedutaan Besar Amerika Serikat, terlibat konfrontasi dengan pasukan keamanan pemerintah. Klip video yang beredar di platform X, dan telah diverifikasi oleh Sanad Al Jazeera, menunjukkan para demonstran mengibarkan bendera dan meneriakkan slogan-slogan duka atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran tersebut. Beberapa demonstran juga dilaporkan mencoba memblokade jalan raya di bundaran dekat gerbang menuju Zona Hijau.

Para pemimpin Irak, termasuk ulama berpengaruh Moqtada Al Sadr dan aliansi penguasa Syiah Kerangka Koordinasi, menyampaikan belasungkawa mendalam. Kerangka Koordinasi menyatakan bahwa “darah (Khamenei) akan tetap menjadi cahaya penuntun bagi semua generasi,” sementara Al Sadr mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari.

Eskalasi Keamanan di Irak Utara

Situasi keamanan di Irak utara juga memanas menyusul insiden di Baghdad. Media lokal melaporkan jatuhnya sebuah drone di dekat Bandara Internasional Erbil, wilayah otonom Kurdi Irak utara, yang menimbulkan kepulan asap besar. Rincian mengenai penyebab jatuhnya drone tersebut belum tersedia.

Sebelumnya, pada Sabtu, 28 Februari 2026, Bandara Erbil menjadi sasaran dua kali serangan drone. Laporan koresponden Al Jazeera menyebut serangan tersebut merupakan bagian dari respons Iran terhadap serangan Israel-AS. Sistem pertahanan udara di Erbil berhasil mencegat serangan drone pada hari yang sama. Amerika Serikat masih menempatkan pasukannya di wilayah Kurdi Irak sebagai bagian dari koalisi internasional yang memerangi ISIL (ISIS).

Respons Iran dan Implikasi Strategis

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam keras pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, menyebutnya sebagai “kejahatan besar” yang tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Dalam pernyataan resmi, Pezeshkian menegaskan komitmen Iran untuk merespons tindakan tersebut.

“Darah murni pemimpin berpangkat tinggi ini akan mengalir seperti mata air deras dan akan membasmi penindasan serta kejahatan Amerika-Zionis,” ujar Pezeshkian. “Kali ini juga, dengan segenap kekuatan dan tekad kita, dengan dukungan bangsa Islam dan rakyat merdeka di dunia, kita akan membuat para pelaku dan komandan kejahatan besar ini menyesalinya.”

Sebagai bentuk duka dan protes, Presiden Pezeshkian juga mengumumkan penetapan tujuh hari libur nasional, di samping 40 hari masa berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran.

Analisis Dampak Regional

Kematian Khamenei dan respons yang menyertainya berpotensi memicu ketidakstabilan lebih lanjut di Timur Tengah. Eskalasi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dapat memperburuk konflik proksi yang telah berlangsung di beberapa negara, termasuk Irak, Suriah, dan Yaman. Komitmen Iran untuk membalas dendam mengindikasikan periode ketegangan yang tinggi dan kemungkinan respons militer yang terkoordinasi.

Analisis mengenai pergerakan militer dan respons diplomatik ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran, serta laporan intelijen publik yang dirilis pada Minggu, 1 Maret 2026.