Gelombang serangan drone oleh Iran di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran serius mengenai ketersediaan amunisi pertahanan udara Amerika Serikat dan sekutunya. Sejak Senin, 2 Maret 2026, drone jelajah sederhana jenis Shahed-136 terus menghantam berbagai target, mulai dari pangkalan militer hingga infrastruktur sipil, memberikan tekanan signifikan pada sistem pertahanan di Bahrain hingga Uni Emirat Arab. Dinamika ini menyoroti potensi pergeseran keseimbangan kekuatan regional, di mana hasil konflik dapat ditentukan oleh pihak mana yang mampu mempertahankan persediaan senjata lebih lama.
Strategi Attrisi Iran dan Dampaknya
Strategi Iran dalam menggunakan drone berbiaya rendah untuk menguras sistem pertahanan udara lawan dikenal sebagai strategi attrisi. Kelly Grieco, peneliti senior di lembaga think-tank Stimson Centre, menyatakan bahwa pendekatan ini masuk akal secara operasional dari perspektif Teheran. Iran memperhitungkan bahwa pihak bertahan akan kehabisan rudal pencegat, melemahkan kemauan politik negara-negara Teluk, serta menekan AS dan Israel untuk menghentikan operasi sebelum Iran kehabisan rudal dan drone.
Dilema Biaya dan Persediaan Pertahanan
Sistem pertahanan udara Patriot buatan AS, meskipun sangat efektif dengan tingkat intersepsi di atas 90 persen, menghadapi dilema biaya yang signifikan. Untuk menjatuhkan satu unit drone Shahed-136 Iran seharga 20.000 dollar AS (sekitar Rp 337 juta), dibutuhkan satu rudal Patriot AS seharga 4 juta dollar AS (sekitar Rp 67,5 miliar). Ketimpangan nilai ini telah menjadi masalah krusial bagi perencana militer Barat sejak awal konflik Ukraina, menunjukkan bahwa senjata murah dapat menguras sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk ancaman yang lebih kompleks.
- Krisis Persediaan di Negara Teluk: Analisis internal yang dilihat oleh Bloomberg News menunjukkan bahwa persediaan rudal pencegat Patriot Qatar hanya akan bertahan selama empat hari dengan tingkat penggunaan saat ini. Kondisi ini mendorong Doha untuk secara pribadi mendesak pengakhiran konflik.
- Kapasitas Produksi: Lockheed Martin Corp, produsen rudal PAC-3 untuk sistem Patriot, hanya mampu memproduksi sekitar 600 rudal pada tahun 2025, meskipun Pentagon telah mendorong peningkatan produksi. Sementara itu, Becca Wasser, kepala pertahanan di Bloomberg Economics, memperkirakan Rusia mampu memproduksi drone Shahed dengan kecepatan beberapa ratus unit per hari, mengindikasikan kapasitas produksi Iran yang serupa atau lebih besar.
Kondisi Militer Iran dan Respon Pertahanan
Iran diperkirakan memiliki sekitar 2.000 rudal balistik setelah konflik tahun lalu dengan Israel, dan kemungkinan besar memiliki jumlah drone Shahed yang jauh lebih besar. Sejak awal konflik tahun ini, Teheran telah menembakkan lebih dari 1.200 proyektil, sebagian besar adalah rudal Shahed, menunjukkan bahwa mereka mungkin menyimpan rudal balistik yang lebih merusak untuk serangan berkelanjutan.
Otonomi Operasional Unit Militer Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Minggu (1/3/2026), menyatakan bahwa unit militer Iran bertindak secara independen dan terisolasi, berdasarkan instruksi umum yang diberikan sebelumnya. Pernyataan ini mengindikasikan potensi kurangnya koordinasi erat dengan kepemimpinan sipil, termasuk kementerian luar negeri.
Inovasi Pertahanan Alternatif
Sebagai respons terhadap ancaman drone murah, AS telah menggunakan patroli jet tempur yang dilengkapi rudal Advanced Precision Kill Weapon System (APWS), dengan biaya 20.000-30.000 dollar AS per rudal ditambah biaya operasional jet. Penggunaan laser, meriam otomatis, atau drone lain dapat menjadi cara yang lebih ekonomis untuk melindungi instalasi, sehingga sistem yang mahal dapat digunakan untuk ancaman yang lebih besar. Laser Iron Beam yang dikembangkan oleh Rafael Advanced Defense Systems Israel, meskipun belum digunakan dalam konflik, dimaksudkan untuk mengatasi masalah ini.
Jika intensitas serangan Iran saat ini terus berlanjut, persediaan rudal PAC-3 di wilayah tersebut dapat menipis dalam beberapa hari. Kondisi ini berpotensi menciptakan kebuntuan jika senjata ofensif juga berkurang. Ankit Panda, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, menilai bahwa rezim Iran mungkin dapat tetap utuh, meskipun dalam kekacauan, berdasarkan dinamika awal konflik ini.
Analisis mengenai pergerakan militer dan dinamika persediaan senjata ini didasarkan pada laporan intelijen publik, pernyataan resmi Kementerian Pertahanan AS dan negara-negara Teluk, serta analisis dari lembaga think-tank Stimson Centre dan Bloomberg Economics yang dirilis pada awal Maret 2026.