Teheran melancarkan serangkaian serangan drone menggunakan Shahed-136 terhadap aset Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Teluk Arab pada akhir pekan lalu, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik regional. Insiden ini, yang dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA), menandai penggunaan drone kamikaze Iran yang semakin meluas sebagai instrumen respons asimetris.
Latar Belakang dan Konteks Operasional
Drone Shahed-136, yang dikembangkan oleh Shahed Aviation Industries Research Center di bawah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pertama kali diproduksi pada tahun 2021. Popularitasnya meningkat signifikan setelah digunakan secara ekstensif dalam konflik Rusia-Ukraina, di mana efektivitasnya dalam menargetkan infrastruktur dan posisi militer terbukti. Penggunaan drone ini di Teluk Persia merupakan respons langsung Teheran terhadap aksi militer AS dan Israel, sebagaimana diverifikasi oleh rekaman yang ditinjau The New York Times pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Spesifikasi Teknis Shahed-136
Shahed-136 adalah loitering munition atau drone kamikaze jarak jauh yang dirancang untuk menukik ke target yang telah ditentukan, berfungsi layaknya rudal berpemandu. Desainnya yang sederhana namun fungsional membedakannya dari drone canggih Barat.
Detail Teknis Utama
| Produsen | HESA, Iran |
|---|---|
| Mulai Digunakan | 2021 |
| Jenis | Drone kamikaze / loitering munition jarak jauh |
| Hulu Ledak | ±36 kg bahan peledak |
| Jangkauan | hingga 2.500 km |
| Kecepatan Maksimum | ±185 km/jam |
| Berat | ±200 kg |
| Panjang | ±3,5 meter |
| Lebar Sayap | ±2,5 meter |
Drone ini memiliki bentuk badan dan sayap terintegrasi berdesain segitiga atau delta wings, dengan panjang sekitar 3 meter dan bentang sayap 2,5 meter. Badan serat karbon (carbon fibre) yang ringan berkontribusi pada jangkauan operasionalnya yang luas. Sistem navigasi satelit GLONASS Rusia, setara dengan GPS AS, digunakan untuk kendali penerbangan dan akurasi sasaran.
Efektivitas dan Tantangan Pertahanan Udara
Salah satu aspek paling menonjol dari Shahed-136 adalah rasio biaya-efektivitasnya. Satu unit drone dapat diproduksi dengan estimasi biaya 35.000 dollar AS (sekitar Rp 590 juta), sementara biaya untuk mencegatnya menggunakan sistem pertahanan udara modern AS berkisar antara 500.000 hingga 4 juta dollar AS (sekitar Rp 8,4–67,4 miliar). Disparitas biaya ini menimbulkan tantangan signifikan bagi strategi pertahanan.
Drone ini dirancang untuk terbang pada ketinggian rendah, sekitar 20–30 meter di atas permukaan tanah, untuk menghindari deteksi radar. Namun, ia juga mampu mencapai ketinggian hingga 17.000 kaki (sekitar 5,2 kilometer). Kecepatan jelajahnya yang mendekati 200 kilometer per jam, ditambah manuver menukik tajam di detik-detik terakhir, mempersingkat waktu respons pertahanan udara. Justin Bronk, analis penerbangan di Royal United Services Institute, menyatakan bahwa kemampuan drone ini membawa 20-40 kg bahan peledak cukup untuk menimbulkan kerusakan signifikan pada struktur yang tidak diperkeras.
Desain sederhana dan penggunaan material komposit pada badan pesawat juga diyakini mengurangi jejak radar, menjadikannya relatif sulit dideteksi dan dicegat. Konsep swarm attack, di mana puluhan drone diluncurkan secara serempak, bertujuan untuk membanjiri sistem pertahanan udara lawan, memastikan beberapa di antaranya mencapai target.
Implikasi Strategis dan Proliferasi
Keberhasilan Shahed-136 di berbagai medan tempur telah mendorong beberapa negara, termasuk Tiongkok dan Rusia, untuk mempelajari dan mengembangkan sistem loitering munition serupa. Hal ini mengindikasikan pergeseran dalam dinamika peperangan modern, di mana senjata asimetris yang murah namun efektif dapat menantang dominasi teknologi militer konvensional.
Iran juga telah mengembangkan varian lain dari seri Shahed, seperti Shahed-131 dan Shahed-141, meskipun Shahed-136 tetap menjadi yang paling dikenal. Popularitas dan dampak strategisnya sering disandingkan dengan senapan serbu AK-47, yang dikenal karena kesederhanaan, biaya rendah, dan pengaruhnya yang luas dalam konflik global.
Analisis mengenai kapabilitas dan penggunaan drone Shahed-136 ini didasarkan pada laporan intelijen publik, citra satelit, dan pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Iran serta laporan media internasional terkemuka seperti The New York Times dan Kompas.id yang dirilis hingga 28 Februari 2026.