Internasional

Iran: Kerahkan Rudal Hipersonik Fattah 2 di Tengah Eskalasi Ketegangan Regional

Teheran mengklaim telah mengerahkan rudal hipersonik Fattah 2 di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Jika klaim ini terkonfirmasi, langkah tersebut menandai penggunaan operasional perdana Fattah 2, sebuah sistem yang disebut sebagai versi lebih canggih dari rudal balistik Fattah milik Republik Islam Iran.

Meskipun sejumlah video yang beredar di media sosial diduga menampilkan Fattah 2, rekaman tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Majalah Military Watch memperkirakan Iran kemungkinan telah menggunakan rudal seperti Fattah-1 dan Fattah 2 untuk menyerang target bernilai strategis tinggi, terutama setelah intensifikasi serangan pasca-meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan kompleks kediamannya disebut menjadi salah satu sasaran pada hari pertama konflik.

Spesifikasi dan Kapabilitas Fattah 2

Menurut laporan dari Iranwatch.org, rudal Fattah 2 dikategorikan sebagai rudal balistik jarak menengah (MRBM) dengan jangkauan operasional sekitar 1.500 kilometer. Sistem ini menggunakan kombinasi bahan bakar padat satu tahap serta bahan bakar cair yang dilengkapi dengan MaRV (Maneuverable Reentry Vehicle).

Diperkenalkan pada tahun 2023, Fattah 2 diklaim oleh Teheran sebagai pengembangan rudal balistik hipersonik buatan dalam negeri yang mampu menembus sistem pertahanan anti-balistik paling canggih milik Amerika Serikat dan Israel. Rudal ini dipamerkan dalam ajang unjuk kemampuan Angkatan Udara Garda Revolusi Islam (IRGC) di Teheran, yang dihadiri mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam kesempatan tersebut, Khamenei juga mendesak negara-negara Muslim untuk setidaknya sementara waktu memutuskan hubungan dengan Israel di tengah konflik dengan Hamas. “Beberapa pemerintah Islam telah mengutuk kejahatan Israel dalam pertemuan-pertemuan, sementara beberapa lainnya tidak. Ini tidak dapat diterima,” ujar Khamenei.

Nama “Fattah” sendiri berarti “penakluk” dalam bahasa Persia. Menurut The Times of Israel, rudal ini dipamerkan di Ashura Aerospace Science and Technology University milik IRGC.

Teknologi Hulu Ledak Hipersonik

Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa Fattah 2 dilengkapi hulu ledak kendaraan luncur hipersonik (HGV) yang mampu bermanuver dan meluncur dengan kecepatan sangat tinggi. Rudal berpemandu presisi dua tahap ini disebut dapat menjangkau target hingga 1.400 kilometer dengan kecepatan Mach 13, atau sekitar 16.000 km per jam, menurut Tasnim. Sementara itu, The Jerusalem Post melaporkan Fattah 2 bahkan bisa melesat hingga Mach 20, atau sekitar 24.696 km per jam.

The Times of Israel juga mencatat bahwa HGV tersebut terpisah dari hulu ledaknya, memungkinkan manuver tajam untuk menghindari sistem pertahanan lawan. Menurut Tasnim, senjata tersebut dilengkapi hulu ledak bermesin berbentuk bola yang menggunakan bahan bakar padat serta nosel yang dapat digerakkan, sehingga memungkinkannya bergerak ke berbagai arah, baik di dalam maupun di luar atmosfer Bumi.

Rudal hipersonik secara umum mampu melaju hingga 15 kali kecepatan suara dengan lintasan yang kompleks, menjadikannya sulit untuk dicegat. Sistem ini dapat membawa hulu ledak hingga 200 kilogram, seperti dilaporkan Times of India.

Dinamika Geopolitik dan Reaksi Internasional

Pengembangan dan pengerahan Fattah 2 oleh Iran terjadi di tengah perlombaan senjata hipersonik global. China dan Amerika Serikat diyakini tengah mengembangkan teknologi serupa, sementara Rusia mengeklaim telah mengerahkan dan menggunakannya dalam konflik di Ukraina. Garda Revolusi Iran sendiri diketahui memiliki persenjataan rudal balistik dalam jumlah besar, yang menjadi elemen kunci dalam strategi deterrence regionalnya.

Pada Juni 2023, Iran memperkenalkan rudal Fattah, yang oleh pejabatnya disebut sebagai rudal balistik hipersonik buatan dalam negeri pertama, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi IRNA. Saat itu, para pejabat menyatakan keinginan untuk meningkatkan jangkauan Fattah dari 1.400 kilometer menjadi 2.000 kilometer, sebuah jarak yang memungkinkannya menjangkau Israel.

Analisis mengenai kapabilitas dan pengerahan rudal ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi pejabat Iran, serta data dari lembaga riset pertahanan publik yang dirilis hingga Rabu, 04 Maret 2026.