Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Minggu (1/3/2026) mengeklaim telah melancarkan serangan rudal balistik terhadap kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln (CVN-72). Klaim ini, yang disampaikan dalam komunike ketujuh Operasi “True Promise 4”, menandai fase baru eskalasi ketegangan antara Teheran dan Washington di kawasan Teluk.
Klaim Serangan dan Konteks Eskalasi
IRGC, melalui Kantor Humasnya dan disiarkan oleh Kantor Berita Tasnim, menyatakan bahwa empat rudal balistik berhasil menghantam USS Abraham Lincoln. Pernyataan ini juga dikutip oleh Turkiye Today dan EurAsian Times, yang menyebut serangan tersebut sebagai “serangan dahsyat” terhadap “kekuatan militer musuh yang lelah” dan mengindikasikan bahwa “darat dan laut akan semakin menjadi kuburan para agresor teroris.”
Serangan ini terjadi di tengah peningkatan drastis ketegangan regional, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026) akibat serangan besar-besaran AS ke Iran. Insiden ini menandai korban pertama di kalangan personel AS yang diumumkan Pentagon sejak serangan tersebut.
Respon AS dan Verifikasi Independen
Hingga Senin (2/3/2026), klaim Iran mengenai serangan terhadap USS Abraham Lincoln belum dapat diverifikasi secara independen. Pentagon maupun Angkatan Laut AS belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden ini.
Secara terpisah, Pentagon mengumumkan bahwa tiga anggota militer AS tewas dan lima lainnya luka parah dalam operasi melawan Iran. Lokasi dan detail kejadian tersebut tidak dirinci, namun pengumuman ini mengindikasikan adanya pertempuran aktif di tengah konflik yang semakin memanas.
Analisis mengenai klaim serangan rudal ini didasarkan pada komunike resmi Garda Revolusi Iran yang disiarkan oleh Kantor Berita Tasnim, serta laporan dari Turkiye Today dan EurAsian Times. Pernyataan mengenai korban militer AS merujuk pada pengumuman resmi dari Pentagon.