Teheran secara sistematis menargetkan bandara-bandara tersibuk dan infrastruktur vital di negara-negara Teluk sejak melancarkan serangan balasan atas operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel. Aksi ini, yang dimulai pada Minggu, 1 Maret 2026, dinilai sebagai taktik Iran untuk meningkatkan tekanan ekonomi dan strategis guna mengakhiri kampanye militer yang menargetkan rezimnya.
Strategi Serangan Iran dan Target Ekonomi
Serangan Iran berfokus pada pusat-pusat komersial strategis di kawasan Teluk, yang sangat bergantung pada transportasi udara sebagai jalur vital perdagangan dan mobilitas tenaga kerja ekspatriat. Bandara-bandara ini juga berfungsi sebagai penghubung utama transportasi dan kargo global, sehingga dampaknya terasa secara internasional.
Layanan pelacakan penerbangan Flightradar24 mencatat, lebih dari 3.400 penerbangan dibatalkan pada Minggu (1/3/2026) di tujuh bandara Timur Tengah. Iran telah menyerang bandara di Dubai dan Abu Dhabi, yang merupakan pusat maskapai Emirates dan Etihad di Uni Emirat Arab (UEA), serta bandara di Kuwait dan Bahrain.
Pada Minggu pagi, kepulan asap hitam membubung setelah drone Iran menghantam Bandara Internasional Dubai, yang pada tahun 2024 tercatat sebagai bandara tersibuk di dunia untuk penumpang internasional. Pihak bandara menyatakan seluruh penerbangan ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Selain bandara, Iran juga menargetkan pelabuhan serta infrastruktur penting lainnya, termasuk hotel-hotel bertingkat tinggi dan menara hunian di Dubai dan Bahrain. Ancaman Iran terhadap Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling vital di dunia, semakin menunjukkan dampak global dari eskalasi konflik ini.
Menurut Yasmine Farouk, direktur proyek Teluk dan Semenanjung Arab di International Crisis Group, strategi Iran bukan hanya untuk regionalisasi konflik, tetapi juga untuk internasionalisasi melalui negara-negara Teluk. “Ini digunakan untuk menimbulkan rasa isolasi pada negara-negara tersebut, untuk membuat penduduknya merasa sendirian dan menciptakan kepanikan di dalam diri mereka,” ujarnya, dikutip dari Wall Street Journal pada Minggu (1/3/2026).
Dampak Regional dan Respon Internasional
Negara-negara Teluk seperti UEA dan Qatar telah membangun bandara mereka sebagai hub global yang menghubungkan Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Bandara Dubai menampung lebih dari 92 juta penumpang internasional pada tahun 2024, sementara Bandara Doha di Qatar menempati peringkat ke-10 dunia untuk penumpang internasional.
Analis keamanan menilai, serangan Iran dimaksudkan untuk memperbesar tekanan terhadap AS dengan memaksa negara-negara Teluk meminta Washington menghentikan serangan. Lonjakan harga minyak akibat eskalasi tersebut turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi global dan inflasi. Bader Al Saif, profesor di Universitas Kuwait dan peneliti di Chatham House, menyatakan, “Mereka ingin menimbulkan biaya bagi semua pihak yang terlibat. Ini seperti strategi bumi hangus. Mereka berusaha sebaik mungkin untuk menunjukkan bahwa jika kita jatuh, kalian juga akan jatuh bersama kita.”
Dalam insiden di Bandara Dubai, empat staf bandara terluka. Di Abu Dhabi, satu orang tewas akibat puing yang jatuh setelah sistem pertahanan udara mencegat drone yang menargetkan bandara, sebagaimana dilaporkan kantor berita negara WAM. Otoritas Kuwait dan Bahrain juga melaporkan bandara internasional mereka menjadi sasaran serangan rudal dan drone.
Eskalasi Konflik dan Implikasi Geopolitik
Serangan-serangan ini merupakan respons atas kampanye militer AS dan Israel yang, menurut Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bertujuan memprovokasi penggulingan rezim Iran. Iran pada Minggu mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan sehari sebelumnya, yang memicu eskalasi balasan ini.
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan, sistem pertahanan udaranya berhasil menangani 165 rudal balistik, dua rudal jelajah, dan 541 drone Iran dalam waktu kurang dari 1,5 hari pertempuran. Meskipun negara-negara Teluk pernah menjadi sasaran serangan Iran, skala konflik kali ini dinilai jauh lebih besar.
Pemerintah negara-negara Teluk bersatu mengecam serangan terhadap infrastruktur sipil mereka. Di Oman, satu pekerja asing tewas akibat serangan drone di pelabuhan komersial pada Minggu, di tengah peran negara itu sebagai mediator dalam perundingan AS-Iran beberapa pekan terakhir. Arab Saudi dan UEA sebelumnya menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk menyerang Iran. Namun, balasan Iran kini mulai menguji sikap tersebut. Saat ditanya CNN apakah UEA akan mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk serangan terhadap Iran, Menteri Negara untuk Kerja Sama Internasional UEA Reem Al Hashimy menjawab, “Kalau memang harus begitu, maka harus begitu.”
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada citra satelit dan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab yang dirilis pada 2 Maret 2026, serta laporan dari International Crisis Group dan Chatham House.